MENU

by • December 12, 2014 • catatan Perjalan, OpiniComments (0)222

Aku Memanggilnya Mbak Ai

Ainun Chomsun, itu nama yang aku kenal lengkapnya dan tidak juga tergerak ngecek ke wikipedia secara terkenal di dunia internet, karena bagi saya mengenal cukup dengan apa yang memang sudah diperkenalkan secara langsung, didengar dan apalagi bertemu dan berinteraksi. Entah kenapa malam ini setelah menyelesaikan satu deadline laporan service level agreement bulan september dan masih tersisa hutang deadline Oktober dan November terasa penat sekali dari rokok yang tinggal batang terakhir dan perut sudah kenyang disamping cangkir kopi juga masih teronggok banyak, ingin aku menulis tentang orang yang biasa aku panggil “Mbak Ai”.

Bagiku orang ini hebat, aku mengenalnya lebih dulu dari cerita di warung nasi padang Jhoni disamping bank BRI sudirman pekanbaru tempat saya waktu itu menjemput mas roni pulang dan kompak lapar tiada tara. Awal cerita yang biasa saja karena obrolan orang lapar dan tukang begadang sambil menikmati kopi kampung yang mencocok mata untuk malu segera meminta ke peraduan. Ceritanya sangat panjang namun berujung pada satu permulaan dengan terbentuknya kelas pertama Akademi Berbagi Pekanbaru.

Itu adalah awal dari cerita panjang di meja makan yang kemudian mengawali kekaguman akan sosok wanita ini, cerita tentang mbak ai benar bahwa dia adalah Founder Akademi Berbagi. Berlanjut kemudian ke era twitter mengenal beliau karena secara waktu itu saya udah punya dan si mas roni ini kayaknya masih anggap twitter itu haram dan mesti dibasuh 7 kali pakai pasir kalo sampe nyentuh burung biru itu. @pasarsapi, nama ini tidaklah asing bagiku secara ini juga sering juga muncul di Blanthikayu, simbok dan epatisme serta ndoro dan pamantyo.

Rupanya beliau adalah salah satu penghuni dan tukang ngramein OBSAT di langsat dan Wetiga, yang dulu sempat saya tulis diblog sayah yang aduhai lucu bin imut-imut sebagai episentrum blogger indonesia entah masih relevan atau tidak di era micro blogging ini, biarlah itu jadi legenda kalo memang ngga bener tulisan ngawur saya karena abis makan di angkringan dan mahal.

793635_10202058126405863_50888428_oPertama kali berjumpa dan berkesempatan ngobrol langsung dengan mbak ai di pekanbaru, dan dilanjutkan di kelas perdana Akademi Berbagi Pekanbaru semakin penasaran dengan apa sepak terjang orang ini ya, yang jelas tidak muda lagi kalo dibandingin dengan saya tapi energi besarnya untuk sebuah impian akan perbaikan pendidikan itu yang membuat semakin penasaran. Cerita pun berlanjut dengan tetap saya hanya sebatas mengenal beliau dari komunikasi salam poke di facebook ataupun twitter nyamber ala mulut clangap orang mojokerto (kebetulan kok masiha da sedikit nyrempet darah mojokerto sekampung), suer saya ngga deket sama mbak ai ini lha wong nomer telpun aja saya ndak punya kok dan terus terang sih segan mau memintanya. Karena bagi saya sih meminta nomer telpon itu artinya saya siap untuk berinteraksi dengan orang tersebut lebih intens, tidak sekedar tukeran nomer (aneh banget saya ya? gitu katanya orang kerja pengen punya kolega banyak), but its oke, sometimes we need to find another way to be different but not just bent (hopooo iki).

Sosok Ibu, Wanita dan Petarung untuk sebuah Impian yang dia selalu sebutkan bahwa Mimpi harus diberi kaki agar tetap berpijak dan berlariĀ  tidak sekedar diawang-awang, untuk dunia pendidikan ada cara lain membantu dengan berbagai godaan tentunya akan sebuah dorongan kapitalis yang bisa menguntungkan diri secara pribadi namun selama setahun ini berada dalam lingkaran mimpinya hal itu jauh dari yang ditakutkan banyak orang. Siapa sih yang ngga pengin sugih, terkenal apalagi dapet duit dari kegiatan volunteer kayak begitu tapi ada kok orang yang memang sedang ingin menjadikan volunteer ini taman bermainnya setelah dia jenuh dengan ladang yang dia bajak tanam dan tunggu berbuah dikampung sebelah. Pun begitu yang memang ladangnya adalah taman bermainya, hal tersebut adalah sah dilakukan.

Tapi yang terjadi dalam fakta bahwa Ainun Chomsun lebih dikenal sebagai Founder Akademi Berbagi bukan seorang social media strategist. karena yang telah dia tanam sudah terlalu banyak menghasilkan dan memberikan penghidupan harapan serta mimpi yang berkaki bagi banyak orang daripada ladang disampingnya yang setiap hari dia rawat untuk dapurnya.

Mbak Ai, saya kagum dengan semangat dan idiom MIMPI harus Berkaki. Banyak yang ingin mengkloning kesuksesanmu namun sepertinya mereka lupa bahwa Kaki dalam MIMPI itu adanya di hati. Hati yang Mencipta MIMPI dalam sebuah Imaji Kaki untuk Berlari, tetaplah seperti Mbak Ai yang penuh dengan Energi Peduli akan Nasib Bangsa melalui setiap kelas yang dibagi.

Dan terakhir, Berbagi Bikin Happy…Dan saya juga tetep happy ngga nyimpen nomer hape karena saya cukup menyapa lewat @pasarsapi.

Pic : Taken by @9ballstraight for Akademi Berbagi Pekanbaru Kelas Perdana

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *