MENU

by • March 5, 2014 • catatan PerjalanComments (0)275

Cerita Lawas untuk Kontemplasi #ibukota

Apa kabar angin malam jakarta , bagaimana kabar keindahan yang kau tawarkan dan juga hiruk pikuk kepentingan yang sudah mulai menjadi gaya hidup megapolitan ?

Fotosintesa Kehidupan yang sudah jauh aku tidak kembali bisa rasakan sedikit empati dan sayatan-sayatan kecil perih namun menyadarkan akal dan pikiran seorang manusia yang mau mengaku dirinya tetaplah Manusia.
Dibangku itu , diluar pinggir jalan aku duduk sendiri di meja untuk 5 orang namun karena memang aku hanya membawa satu wujud aku paksakan untuk duduk dibangku itu. Seperti biasa , ritual pun dimulai dengan pesanan satu cup coklat Panas dan sebungkus kentang Goreng plus Tembakau isi 16 Batang selera Pemberani. Duduk dan mulai membakar satu batang tembakau sambil menenangkan hati yang terlalu euforia dengan harapan untuk membasuh dahaga hati akan perasaan yang sepertinya sudah lupa aku rasakan indahnya namun lebih pada bagaimana aku memahaminya lebih dalam.

Lalu lalang para figuran dengan Gaya dan penampilan peran yang mereka banggakan , para kru televisi bintang itu pun dengan seragam hitam-hitam yang bercengkrama silih berganti masuk keluar pintu (*kebetulan aku duduk pas disebalah pintu masuk*) , Dibelakangku sibuk mereka membahas program dan pekerjaan nya disatu sisi teman mereka curhat tentang cinta dan petakomplinya diantara persahabatanya (*bukan saya menguping tapi kursi kami membalakangi dan suer kenceng banget ngomongnya*).

Sampai pada satu ketika , sudah 4 jam ternyata saya duduk bertahan dengan gelas , kentang dan tembakau yang sudah terbakar separuhnya…Ada pula waria menghampiri sambil mengamen dengan tapenya rusak joget2 ga jelas yang tanpa karya meminta uang saweran..”Maaf ya mbak , kalo mau ambil Rokok silahkan kalo uang saya ga kasih karena sampean ndak nyanyi”…memang sudah urat malu karena lindasan ibukota menghimpit mereka ” Makasi mas Ganteng ” , pengen kutendang saja sampe merinding saya .

Namun dalam duduk ku disana menantikan sesuatu yang memang sudah benar menjadi mimpi dan keinginan yang sangat berlebihan untuk orang yang bernama seperti saya akhirnya jari-jari saya pun membuka aplikasi media berkicau dan mulailah saya berkicau tanpa ada satupun niat untuk menulis…tapi tangan , hati, otak membimbing semuanya tertulis dan setelah tertulis aku pun diam

Kenapa aku bisa menuliskan itu semua diluar alam bawah sadarku dan terpublishlah semua di dunia maya itu , tapi sudahlah terimakasih untuk kekuatan yang menuliskan kejujuran hati dan empati dari kompartmen hati yang termana aku tak tahu

Beberapa tulisan yang akhirnya mulai saya paham kenapa hati saya membimbing untuk menuliskanya :

Belajar menerima pahitnya alkohol lebih terlihat gagah daripada menerima ayat khasiat air zam-zam krn menafikan adlh mensufikan kemunafikan
Menghitamkan yang putih jauh lebih mudah tapi tidak memutihkan yang hitam , seperti juga melacur pun ringan daripada mendaptkn malam pertama….
Pinuturing alam sendikaning gusti , lakuning raga jelajahi bhumi..kawula namung topeng tarian Gusti kang nuntun jiwo dahaganing lentero ,
Panembangan alam kang nyinden rekosoning ati nyayat roso trisno sing ora kebales maring atosing roso ingkang kabutan marang kahanan liyan

Dan akhirnya semua itu tertutup dengan tulisan ” at the city of memories I already face the fact I have to wait for what I am struggle for , and unfortunately in this city I have to be part of that memories , wait for something uncertainty for what I am struglle for..midnight in coffeshop

Semoga bisa lebih menjadi apa yang diinginkan , dan lebih banyak bisa mengempatikan semua nya..karena tidak bijak jika harus mengkasihani diri sendiri untuk sesuatu yang terjadi karena kebodohan kita sendiri…

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *