MENU

by • November 24, 2016 • catatan Perjalan, OpiniComments (0)219

Desa Bokor dan World Music Festival [1]

Hatiku sempat tertinggal di Desa Wisata BOKOR, begitu mereka menyebut tempat sebuah World Music Festival digelar. Tempat ini berada sekitar 4,5 Jam dari Pekanbaru yang ditempuh dengan Jalur Darat – Kapal dan Pompong.

Riau adalah sebuah propinimg_82541  si yang sangat besar luas areanya, hal itu aku akui ketika pada akhir oktober lalu pindahan dari pekanbaru ke jakarta. Melintasi Jalur darat yang sangat panjang aku pun terheran dengan luas Riau dengan kekayaan daratnya serta vegetasi yang menjadi kekayaan tersembunyi bahkan mungkin harta karun untuk anak cucu kedepan. Untuk minyak bumi dan minyak sawit jangan ditanya untuk propinsi yang terkenal dengan atas bawah tanahnya terkandung minyak anugerah Tuhan.

Budaya dan kesenian adalah harta dari Tuhan yang juga diselipkan langsung oleh-Nya melalui masyarakat di Riau, The Homeland Of Melayu. Tanah Tua Melayu sebagai pusat peradaban bangsa melayu, Riau adalah sebuah propinsi yang dimana saya menjumpai dengan mudah anak muda, orang tua memainkan karya seni dan tentunya banyak sekali tradisi dan nilai budaya dari barisan budaya Sumatra. Sebagai orang jawa, saya merasa terkaget-kaget kecintaan mereka akan budaya dan seni yang tidak aku temukan semudah saat ada di jawa. Aku lahir dan besar di mojokerto yang konon dan sampai sekarang adalah tanah tempat Majapahit meninggalkan jejaknya lewat candi- candi di trowulan.

img_82851Jawa adalah gamelan dan bagiku Ludruk sama ketoprak adalah puncak dari sebuah kenikmatan masa kecil dulu di ajang kawinan dan event pemerintah diadakan plus gemerlap saat pabrik gula buka giling dengan TAYUBnya. Apakah saya terlalu subyektif? perjalanan ini yang harus saya sampaikan bahwa subyektifitas itu adalah kondisi obyektif bahwa di luar pulau jawa ada eksplorasi budaya yang sedang diekskavasi saat ini, tinggal menunggu artefak budaya apa yang akan ditemukan dan bisa jadi akan membuat kita semakin yakin bahwa INDONESIA dan NUSANTARA ada dalam masa kejayaan peradaban manusia.

img_82681Melalui Perjalanan darat menggunakan mobil yang ditempuh dalam kurun waktu 3 Jam menuju Pelabuhan Tanjung Buton, diwarnai dengan kondisi jalan yang rusak serta banjir karena memang luapan air menjadi sebuah cerita nyata dari sopir travel yang saya saksikan sendiri kebenaranya. Menerjang banjir adalah pilihan yang harus diambil dan resikonya adalah plat nomor mobil depan pun harus hilang karena tersapu air. Jalan berlubang dan bergelombang adalah tantangan untuk sampai di pelabuhan, parkir inapkan mobil kemudian berlanjut ke Kapal Speed menuju pelabuhan Selat Panjang kurang lebih satu jam perjalanan.

Selat panjang ke BOKOR menumpang pompong adalah bagian keseruan dari perjalanan menuju DESA WISATA BOKOR, yang akan disambut papan selamat datang dan keramahan warganya plus satu warung kopi jika kita ingin bersantai sejenak.

Kisah selanjutnya tunggu di tulisan berikutnya

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *