MENU

by • October 11, 2018 • catatan Perjalan, Community, OpiniComments (0)120

Digital dan Kewarasan, Stay Outside!

Mengucapkan selamat datang kepada “hilangnya” privasi saat kita sadar menjadi bagian sebuah evolusi kehidupan bernama dunia digital. Istilah Artificial Intelligent alias AI adalah dua kata yang ngetren sekali ketika berbincang tentang dunia digital. Jadi keinget pas jaman kuliah yang pas banget ngambil jurusan Elektro, Sistem Pengaturan. Dan kemudian sekarang masuk ke dunia pekerjaan yang bersentuhan dengan produk dan project yang menggunakan dua kata tersebut.

Menjadi pintar atau cerdas mau tidak mau harus mengikuti proses alamiah yang namanya “Belajar”. Belajar pun sudah pasti ada materi yang diajarkan dan guru yang mengajar. Begitupun dengan dunia digital yang sekarang semakin mendekatkan peradaban manusia kepada sebuah semesta baru yang sepuluh tahun lalu seperti tidak terbayang akan menjadi sepopuler dan senyata ini.

 Revolusi Industri 4.0 dan transformasi digital dalam dunia bisnis adalah sebuah kekinian yang telah terdorong menjadi sebuah demand karena marketnya pun sudah tercitrakan digital. Kalo ngga digital ngga gaul alias konservatif alias ribet. Social Media menjadi pintu gerbang dari percepatan peradaban manusia, dari mulai yang berawal dari text Рgambar kemudian beralih ke audio visual. Friendster, Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube adalah aplikasi yang standar kita temukan di gawai kita ( Coret dulu Friendster yak!).

Semua aplikasi yang seolah menjadi tempat kita masuk dimensi lain kita sebagai manusia, aplikasi yang selalu meminta ijin untuk mengakses location, microphone dan Kamera kita. Menjadi Trending dan Bintang lias viral serta dibicarakan banyak orang atau menjadi bagian orang yang membicarakan keramaian tersebut adalah sebuah candu baru dalam kehidupan social media kita. Tidak semua pengguna sih tapi setiap kita sebagai pengguna pasti pernah melakukan dan berharap lucky luck seperti itu.

Dunia bisnis dan customer care pun mulai menjadikan gerombolan itu sebagai source of call mereka untuk dapat hadir di layanan digital mereka. Namun memang capek ngadepin netizen dengan celotehanya yang kadang memang jabang bayi lanang wedok banget pedesnya. Pernah memimpin tim IT Service Desk 5 Tahun, saya pun merasakan bagaimana kadang agent merasa seperti tempat sampah bagi para customer yang terkadang kurang teredukasi dalam menyampaikan keluhanya. Bahkan saya pernah menyampaikan kalo customer service itu berangkat kerja itu defaultnya dimarahin customer dan disalahin tapi harus selalu senyum sebagai courtesy yang diajarkan. Trust me, mereka itu punya kesabaran ekstra. Dan template jawaban customer service serta belum firmnya handling dunia digital dari segi tools terkadang itu menyulut netizen untuk semakin brutal. Lupakan saja dulu Netizen dengan segala titahnya.

Dunia NOPIC=HOAX sekarang pun telah bergeser menjadi NOVID=HOAX, Kemarin baru ikutan pitching sebuah perusahaan otomototif yang ingin membuat tools social media crawler demi sebuah kesungguhanya menjaga BRAND REPUTATION saya pun tercengang dengan keinginan mereka untuk dapat menangkap setiap issue dari MEDIA ONLINE plus SOCIAL MEDIA KANAL, dan juga pengenya real time muncul dan ditangani tidak sampai 1 jam SLA untuk dapat dinetralisis sentimen negatifnya minimal menjadi netral atau terbantu.

Mencari Jarum di tumpukan jerami dulu adalah sebuah pepatah yang menggambarkan kesulitan tapi di dunia digital jarum itulah yang memang dicari dari tumpukan jerami jagat suara dan konten yang ada di social media. Feed news, Iklan selalu menghantui kita saat kita habis melakukan sebuah aktifitas di gadget kita. IKLAN adalah sebuah hal yang kemudian perlahan muncul sebagai suggestion atas kebutuhan kita. Kita pun sudah mulai bergeser berharap iklan yang muncul adalah yang kita butuhkan sebagai reminder bahwa kita lagi butuh nyari itu nih.

Random dan tidak akan habis untuk dibahas dan dituliskan tentang dunia digital yang sudah bergerak masuk ke sendi kehidupan manusia modern. Kita masih butuh kewarasan untuk menghadapi kehidupan nyata akan ada cicilan dan tanggungan keluarga yang mesti diselesaikan tidak dengan menjadi bagian pusaran digital nan tambah gila ini. Kita mesti tahu kapan untuk tidak mengikuti Algoritma yang sedang dibuat untuk kita ikuti, STAY OUTSIDE. 

Algoritma Social Media sudah seperti Agama baru bagi para pencari duniawi digital dan pemain bisnis digital. Algoritma berubah maka pasar pun akan berubah secara prediksi matematis seakan sudah menemukan pattern atas konten dan buzzing, Kalo ga salah Mbak Ainun Chomsun menyampaikan begitu.

Tapi Ndorokakung juga kemudian mengajak kita waras sebagai Guru Buzzer Indonesia, Kalo algoritma berubah dan kemudian konten kalian menjadi tidak seperti biasanya engagementnya dan impression, ada baiknya perlu lebih sering samperin tukang gorengan deket kantor dan nanya ” Mas, Gimana jualan hari ini?”. Pasti ada naik dan turunya dengan analogi racikan sama, spot sama dan sudah dikenal bertahun-tahun. Itulah kita harus tetep waras, Rejeki sudah ada yang Ngatur.

Emang bener kalo Ndorokakung alias Pak Wicaksono ini sudah sepuh dan senior makanya bijak kalo ngasih materi. Tulisan panjang saya ini adalah intisari yang saya tangkap dari Kelas Akademi Berbagi JADETABEK, 06 Oktober 2018 di DBS Bank Tower dengan judul ” Social Media Camp : Strategy, Content & Buzzer “.

Bakal ada tulisan lanjutan karena rekaman di otak saya random saking banyaknya isi dari guru yang ngajar, Nanti diceritain gimana nih trend buzzer yang lagi dicari brand.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *