MENU

by • February 22, 2016 • CommunityComments (0)637

Gizi Seimbang, Bangsa Sehat Berprestasi

Aula Laboratorium Terpadu Lt. 4, Poltekkes Kemenkes Riau di Jl. Melur itupun penuh sesak oleh animo peserta seminar yang terdiri dari berbagai kalangan, Dosen, Mahasiswa, PNS, Blogger, Netizen dan rekan-rekan wartawan. Kapasitas gedung pun menjadi penuh sesak tak tertampung.

Hal dibawah ini adalah paparan fakta yang disampaikan oleh PERGIZI PANGAN INDONESIA dan Sari Husada dalam sebuah release yang diberikan terkait dengan #SeminarGizi yang diadakan hari Sabtu, 20 Februari 2016 di Poltekkes Pekanbaru yang bertajuk “Mewujudkan Gizi Seimbang Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”.

Saat ini, Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu kekurangan dan kelebihan gizi. Laporan Riskesdas 2013 mengungkapkan bahwa pada semua kelompok umur dan jenis kelamin di Indonesia terjadi masalah gizi kurang dan gizi lebih. Hanya sekitar separuh anak Indonesia yang berstatus gizi normal, sementara separuh anak-anak Indonesia lainnya mengalami gizi kurang, pendek, dan gemuk.

Kesadaran dan penerapan gizi seimbang pun masih rendah.  Riskesdas 2013 menyatakan bahwa 93.5% penduduk
Indonesia berusia ≥ 10 tahun berperilaku konsumsi sayur dan buah yang kurang (Riskesdas 2013), dan data dari Badan Ketahanan Pangan Kementan, menunjukkan bahwa pemenuhan pangan hewani hanya 80% pada tahun 2012.  26,1% penduduk Indonesia tergolong aktifitas fisik kurang.

Provinsi Riau sendiri mencatat status gizi buruk-kurang sebesar 22,5% (Riskesdas 2013), lebih tinggi dari prevalensi nasional,.  Stunting pada balita meningkat dari 32,1% (Riskesdas 2010) menjadi 34,1% (Riskesdas 2013).  Prevalensi penduduk berusia > 10 tahun yang berperilaku kurang konsumsi sayur dan buah mencapai 98,9% atau hampir semua penduduk, dan aktifitas fisik kurang mencapai 30,6%, lebih tinggi juga dari prevalensi nasional.

posterPemateri pertama adalah Prof. Hardinsyah, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, dalam paparannya mengenai  “Pentingnya Pangan Hewani, Buah dan Sayur”, mengatakan, “Saat ini Indonesia menghadapi  masalah gizi ganda, yaitu kekurangan dan kelebihan gizi, yang salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan gizi seimbang.  Panduan Gizi Seimbang (Kemenkes,  2015) menganjurkan setiap remaja dan dewasa Indonesia mengkonsumsi  2-4 porsi (100-200g) pangan hewani, 3-4 porsi (300-400g) sayur dan 2-3 porsi  (100-150g) buah setiap hari guna
memenuhi kebutuhan protein, vitamin, mineral serta serat untuk hidup sehat.  Kenyataannya saat  ini konsumsi sayur dan buah baru sekitar seperempat jumlah yang dianjurkan dan konsumsi pangan hewani baru tiga-perempat jumlah yang dianjurkan.”

Fakta data Riskesdas 2013 menyatakan bahwa 93,5% penduduk Indonesia berusia ≥ 10 tahun berperilaku  konsumsi sayur dan buah yang kurang.  Sedangkan konsumsi pangan hewani pada ikan, telur dan susu pada masyarakat di Indonesia masih di bawah rata-rata konsumsi pangan hewani  masyarakat di ASEAN.

Provinsi Riau sendiri mencatat prevalensi penduduk berusia > 10 tahun yang berperilaku kurang konsumsi sayur dan buah mencapai 98,9% atau hampir seluruh penduduk.  “Berbagai studi telah membuktikan bahwa konsumsi pangan hewani yang cukup dapat mencegah defisiensi gizi mikro, mencegah anemia, dan meningkatkan kemampuan belajar.  Sedangkan konsumsi buah dan sayur yang cukup dapat menurunkan risiko penyakit  pembuluh darah, kanker dan depresi.   Karenanya perlu berbagai kebijakan dan upaya untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral melalui peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan hewani, sayur dan buah, serta pangan fortifikasi gizi mikro,” tambah Prof. Hardinsyah.

 

Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, MS, Ketua Himpunan PAUD Indonesia, menjelaskan bahwa masalah gizi pada periode 2007-2013 menunjukkan peningkatan gizi kurang.  Data underweight dan stunted tahun 2010 masing-masing 17,9% dan 35,6% lalu meningkat pada tahun 2013 masing-masing menjadi 19,6% dan 37,2%.

Sepertiga anak Indonesia stunted. Hal ini berdampak besar terhadap mutu SDM bangsa, mengingat 90% potensi kecerdasan otak dibangun pada usia dini.  PAUD bertujuan mengoptimalkan tumbuh kembang anak usia dini.  Tujuan pendidikan nasional salah satunya adalah anak sehat.

Ir. Mangapul Banjarnahor, M.Kes, memaparkan tentang status gizi anak balita, keluarga dan capaian  kinerja kegiatan perbaikan gizi Propinsi Riau tahun 2015.Sedangkan melalui paparannya berjudul “Peran Multi Pihak dalam Mengatasi Masalah Gizi dan Pangan, Dr. Ir. Heryudarini Harahap, M.Kes, Ketua DPD Pergizi Pangan Riau, mengajak semua pihak untuk bekerjasama dalam menanggulangi berbagai permasalahan gizi di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau.  “Upaya perbaikan gizi memerlukan dukungan berbagai pihak,” jelas Heryudarini.

Keterangan lebih lanjut mengenai seluruh rangkaian kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional 2016 dapat diperoleh di www.pergizi.org ya kawan-kawan, data dan fakta daerahmu bisa dilihat disana. Kalo pengen ngebaca storynya via twitter juga bisa cek hastag #SeminarGizi, kebetulan akun saya @rendraTEUB ikutan lomba livetweet dan jadi salah satu dari 5 pemenang bareng netizen lainya.

Simak juga tulisan tentang #SeminarGizi ini di Blognya liandamarta.com, Blogger Pekanbaru Paling Ngehits

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *