MENU

by • August 21, 2017 • OpiniComments (2)120

Indienesia, Candu tarik ulur fanatisme

Semenjak spotify hadir dan menjadi salah satu pengguna premium dengan cara patungan mendengarkan musik menjadi semakin mudah dan cenderung gampang bahkan gampangan juga bisa. Mendengar musik mainstream atau yang menjadi pembahasan di dunia permukaan cukup dilakukan di radio mobil atau apps radio yang bakal bikin telingamu panas atau bahkan ganggu konsentrasi nyetir saking iterasinya yang luar biasa. Jadi sempet nanya dalam hati, ini program director atau yang bagian bikin playlist kayaknya bentar lagi bunuh diri atau depresi masa sampe seharian itu aja lagu yang di dengerin ( berangkat pulang lewatin macet dan lagunya itu-itu aja itu memang bego banget kalo dipikir, kenapa ga ganti radio yang lain? Saya setia sih orangnya kalo udah milih ya udah itu aja ).

Mendengar musik-musik indie yang sudah masuk spotify apakah dibilang indienya udah ga murni lagi? silahkan berdebat deh karena saya sedang sering nongkrong di Channel Indienesia dan musiknya klik banget sama suasana kerja, main atau apapun deh. Tulisan ini bukan diendorse ama spotify kok tapi memang lagi pengen mengapresiasi aja nih aplikasi secara nyoba aplikasi buatan operator terbesar di Indonesia isinya iklan dan sering tiba-tiba hening sendiri dan mesti pencet lagi.




Kekuatan syair, musik yang harmonis tidak berisik ( karena saya sih lagi ga didengerin yang full distorsi sama playlist ini) kembali tentang selera dan gimana saya gampang banget anjlok hatinya denger suasana tarikan suaran soft, biola melodis pada tempatnya dan sesekali colongan terompet atau flute memperkaya sebuah penyelaman mereka berkreasi di jalur indie serius ini. Sampe pada pemikiran pribadi kalo INDIE bagi saya sudah bergeser tidak sedang berbicara tentang label musik atau promotor namun lebih kepada penikmat musik tak lagi bertanya “labelnya apa sih kok bagus gini karyanya” bahkan dalam hati saja pun tak sempat bertanya.

“Tak perlu tertawa atau menangis pada gunung dan laut karena gunung dan laut tak punya rasa”

Saya termasuk generasi yang pernah mengalami masa memiliki parameter musik bagus adalah

  • Labelnya Sony Music
  • Video Clipnya dibikin Dimas Jay
  • Covernya di desain sama desainer terkenal.

Jadi kalo diluar dari kriteria itu, faktor keberuntungan yang amat sangat di era industri adalah sebuah kemustahilan namun siapa sangka dunia digital memporak-porandakan para taipan musik dengan adanya revolusi yang sedemikian drastisnya. Toh juga INDIE dan dunia serta karyanya juga tidak melulu tentang sebuah kenylenehan lirik perlawanan namun lirik yang pakai bahasa kebebasan dan masih mempertimbangkan sisi populis melodis yang mudah diingat.

Bagi saya, tentang perlawanan belum bisa lepas dari Efek Rumah Kaca yang sangat aneh tapi semakin kesini semakin relevan dan menjadi prediksi akan kondisi perpolitikan negeri kita. Payung teduh, Fourtwenty dengan ayunan timang-timang romantis nan jauh bermain range hati yang menari ketika bernyanyi menawarkan konsep-konsep tentang imajinasi musikalisasi puitis.

Ah, mereka memang hebat kok para pengeksplore bunyi dan idealisme tentang isu yang mereka tangkap dari kegelisahan. Selama mereka masih menasbihkan dirinya sebagai SENIMAN akan selalu ada ruang atas apresiasi karya dan keniscayaan kejatuhan akan segera datang saat mereka NGARTIS.

Dunia musik indie bagi saya saat ini mengajak untuk menjadi candu tarik ulur fanatisme. Fanatisme bergesera dari Group dan aliran menjadi FANATISME INDIE, INDIENESIA.

Salam Indienesia.

happy wheels

Related Posts

2 Responses to Indienesia, Candu tarik ulur fanatisme

  1. rainhanifa says:

    Aku juga paling sering dengerin Indienesia ini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *