MENU

by • April 1, 2016 • catatan Perjalan, Community, OpiniComments (0)403

Jakarta, Aku dan Pekanbaru

Siang ini masih seperti kota pekanbaru yang aku kenal dan banyak orang lain pun amini, panas menyengat diluar gedung tempatku bekerja. Perjalanan panjang nan jauh dari kampung halaman telah menghantarkan aku Empat Tahun 11 Bulan, sebentar lagi akan menginjak usia usainya 5 tahun.

Menjadi pekerja kontrak disebuah perusahaan minyak nomor satu didunia adalah pengalaman yang tidak pernah aku bayangkan untuk merapat sampai selama ini, di kota yang pernah aku sempat ujar tidak akan mau menginjakkan kaki karena trauma yang besar. Rupanya aku terlalu sombong tujuh tahun lalu saat berujar hal itu, kejadian tujuh tahun lalu adalah sebuah sinyal untukku akan kembali ke kota pekanbaru.

Dulu, aku hanya tahu PANAM adalah areal kampus UIN dan Gang Aman Jl.Rajawali Sakti adalah mess kantor tempat semua traumatic itu bermula. Kota pekanbaru aku dulu hanya mengenal Ayam bakar wong solo dan itupun harus naik bis, terasa sangat jauh dan tidak berujung rasanya kota ini, dulu. Lima tahun lalu, diawal aku memutuskan menerima pekerjaan ini dengan bayang-bayang ketidaknyamanan melewati setahun dengan sendiri memecah kebuntuan menikmati kehidupan di kota dengan membawa sebongkah cerita-cerita dan pengalaman hidup pahit yang sudah coba aku tinggal di laut lepas saat aku terbang dari jakarta ke pekanbaru, namun itulah namanya pengalaman hidup, dia tidak bisa ditinggalkan atau dihapus tapi diterima dan diakui menjadi bagian pemantasan atas diri kita hari ini.

Aku menjadi lebih mengenal kota ini setelah aku mengenal para penghuni kota yang menyenangkan dan membuka sedikit-demi sedikit tabir bagaimana cara menikmati kota pekanbaru dengan keanekaragaman dan kekuatan unsur kebudayaan didalam setiap penduduknya. Aku pun terheran disini menjumpai begitu besar dan banyak generasi muda yang sangat bangga memainkan kesenian daerahnya, tahu betul cerita budaya dan menjadi pemain atas kecintaanya. Dimana hal tersebut tidak aku temui di jawa dan kampung halamanku yang notabene tempat pernah berjaya kerajaan MAJAPAHIT.

Anak-anak MTQ mereka menyebutnya, para seniman muda dan anak-anak kuliahan yang mengambil jalur seni adalah sebuah kekagumanku satu lagi. Mereka muda tapi begitu bangga memainkan apa yang tradisi ajarkan, awalnya aku mengira itu hanya karena mereka kuliah atau sekolah dibidang seni. Namun ternyata ada sebuah budaya turun temurun dimana banyak yang orang tua mereka adalah orang tua yang dibesarkan dalam lingkungan sanggar kesenian, disini aku melihat fenomena originalitas tersebut dan itu menurutku, VALUE!.

Di Group musik Ethnocontempo Riau Rhythm Chambers Indonesia, aku pernah ngobrol wawancara mereka dan 5 diantaranya adalah anak-anak muda karena ukuranku adalah saat itu mereka masih kuliah dan ada yang baru saja lulus. Mereka semua memiliki latar belakang dibesarkan dilingkungan sanggar kesenian dan hal tersebut terpatri betul dibenak mereka,sampai dengan mempengaruhi keputusan mereka memilih jurusan di perkuliahan. Diluar dari itu, beberapa ada juga yang bergabung di Komunitas Gubuk Jazz, melihat bagaimana mereka begitu mencintai musik dan pilihannya untuk menjadi unik ditengah keanekaragaman masyarakat di kota ini.

Bertemu dengan senior waktu dikampus yang menjadi AKAMSI (Anak Kampung Seni), menghantarkan aku kemudian berkenalan dengan Akademi Berbagi dan kemudian memutuskan menjadi bagian dengan Akberpekanbaru. Sebuah kolaborasi lintas umur dan profesi begitu banyak GAP yang ada menjadikan organisasi Volunteering ini sangat dinamis dalam perjalananya yang sudah lebih dari 2 tahun aku ikuti. Berbagi Bikin Happy adalah sebuah slogan / Tagline yang sederhana namun secara filosofi mempunyai kedalaman makna. Kedalaman makna bukan dari sisi organisasi namun bagaimana melalui organisasi menciptakan seorang anak bangsa yang memahami konsep volunteering, memberikan waktu dan peran untuk kontribusi sebagai warga negara. Aku belajar banyak hal dari Akberpekanbaru bagaimana menjadi mengambil bagian peran semestinya, karena setiap perjalanan episode hidup kita harus menjalankan peran kita semestinya dan fokus.

Kelompok Suporter Aremania Pekanbaru adalah tempat persaudaraan yang bisa menjadi pelipur lara sekedar bisa berbagi tepo seliro dan ngomong jowo sesama perantauan. Tidak melulu tentang AREMA tapi bagaimana AREMA menjadikan kita seduluran dan yang paling penting adalah bagaimana menjadi seorang AREMANIA yang berasimilasi dengan kultur melayu yang kental. Mengenal kelompok supporter lainya adalah BONUS tersendiri, dan disini belajar menghargai kesempatan untuk menjadi saudara dan rival. Kalo Cak lis bilang, Dimana Bumi Dipijak disitu langit dijunjung.

Seakan tidak tahu ujung dari tulisanku siang ini akan kemana arahnya, karena lima tahun akan segera datang dan artinya akupun harus bersiap untuk menunggu kemana arah angin akan membawaku kembali, yang jelas kembali ke titik awal dulu, JAKARTA!.

Sambil aku menulis disini, terputar terus lagu Iwan Fals Feat Laduni yang berjudul ” Belum Ada Judul” menemani aku mengembarakan rasa dan pikiran tentang perjalanan ini. Semakin mendekat akhir dari tugas ini, semakin kosong aku rasakan dan semakin bodoh serta terasa semakin tidak tahu apa-apa tentang apapun.

Tuhan Maha Asyik Banget Siang ini bisa bikin saya menulis curhat begini.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *