MENU

by • October 24, 2018 • catatan Perjalan, Community, OpiniComments (0)103

KELAS, Mensederhanakan Berbagi Bikin Happy

Sebuah gerakan yang mensederhanakan kembali arti “Kelas”, Akademi Berbagi. 5 Tahun aku menjadi bagian dari gerakan komunitas ini dan 5 tahun itupun aku terus tergagap dengan fenomena yang terjadi dalam perkembangan gerakan ini. Tergagap dengan adanya sebuah fenomena atas ketidakmerataan yang nyata terjadi di republik ini. KELAS, ini adalah bagian kecil dari serpihan kompleksitas persoalan negeri ini yang tidak pernah lelah untuk membawa rakyat yang senantiasa membuncahkan nasionalisme saat lagu Indonesia Raya Berkumandang dan dinyanyikan bersama.

Semudah itu untuk kembali merajut satu, di Indonesia. Kembali kepada peresapanku sebagai pribadi, seorang relawan yang semoga masih memegang idealisme definisi seorang relawan atas pemahamanku pribadi, Berikan yang engkau bisa berikan. Akademi Berbagi membuka kesempatan bagi kota-kota di seluruh Indonesia untuk dapat menjadi bagian dari Akber Kota. Aku merasakan menjadi bagian dari akber kota itu sendiri, Akber Pekanbaru.

Sebuah perjalanan dengan Akber Pekanbaru adalah pengalaman hidup yang aku catat betul dalam kehidupanku, termasuk dengan istri dan anakku. Di Akber Pekanbaru, aku dan relawan disana menangkap semangat yang pernah disampaikan langsung oleh Founder Akademi Berbagi, Mbak Ainun Chomsun tentang intisari dari nilai sebuah kelas itu diadakan oleh Akademi Berbagi.

Sederhana kami mendengar bagaimana semangat beliau dulunya mengawali gerakan ini karena keinginanya belajar tentang Ilmu Branding langsung dengan ahlinya dan beberapa temanya untuk mengakselerasi learning curve jika harus belajar dari scratch. Sebuah kelas tentu memiliki perangkat yang harus terpenuhi secara kelengkapan, Guru – Murid – Tempat Belajar. Kamipun mencoba memulai langkah awal membuat kelas dengan menyiapkan 3 komponen dasar sebuah KELAS, Guru – Murid dan tempat belajar.

Aku masih ingat waktu awal membuat proposal untuk peminjaman ruang di perpustakaan wilayah Propinsi Riau, waktu itu lewat mbak rinta di Chevron. Kami berhasil meyakinkan beliau bahwa Chevron Corner adalah tempat yang pas untuk KELAS pertama kami, dan gayung pun bersambut dengan kepala UPT Perpustakaan. Guru, Founder Akademi Berbagi berkenan menjadi guru pertama sekaligus meresmikan Akademi Berbagi Pekanbaru. Seorang Blogger senior pekanbaru, Bang Fiko yang merupakan sosok yang mendampingi sebagai guru belajar tentang dunia blogger. Apa ya materi kelas pertama akberpekanbaru? Coba cek Blog Mereka, masih ada kok arsipnya.

Akademi Berbagi memperkenalkan kepada kami tentang media sosial sebagai medium sebuah kelas dapat terinformasikan. Facebook, Twitter adalah media yang kemudian akrab menjadi media kami bersentuhan langsung dengan para peserta kelas. Sebuah proses yang terlihat sederhana namun begitulah kelas bisa terselenggara. Kami mempunyai pesan khusus bahwa tugas akberpekanbaru adalah memunculkan local heroes/talent yang selama ini tidak terekspose untuk kemudian menjadi sosok yang dikenal di kotanya. Melalui jaringan Akademi Berbagi, Mereka pun dapat terekspose secara nasional bahwa ada Local Talent / Expert selain jakarta.

Semenjak saat itu, proses mencari guru untuk kebutuhan kelas adalah hal yang menarik bagi kami beramai datang ngobrol duluan mencoba menyaring intisari dari calon guru sebelum nanti akan mengisi kelas. Ada sebuah cara berpikir sederhana diantara kami waktu itu, Apa yang kita pengen pelajari nih? Yuk cari gurunya dan kita buat kelas dan ajak yang lain belajar. Kalo kita merasa sedang tidak tahu mau belajar apa? Kita putar menjadi ” apa yang akberians pengen belajar nih? Belajar bareng yuk?!”.

Sederhana sekali kami bergerak untuk membuat kelas. Akupun terkadang senyum sendiri membaca kenangan saat masih bersama Akberpekanbaru, Rindu. Aku ingat sekali momen waktu kelas Bayu tentang Fotografi di Taman Kota yang saking pengenya kelas santai dan ” pasti ada colokan” kemudian kenyataan berkata lain. Olan dan Lia kemudian dengan heroik membawa Genset agar KELAS tetap berjalan dan KELAS pun berjalan dengan semestinya. Saat projector yang biasa kami pinjam kemudian dipakai, TV di rumah pun diangkut agar akberians bisa tetap mendapatkan visual atas materi yang disampaikan di KELAS.

Sekarang, Aku relawan Akber JADETABEK dan menjadi salah satu pengurus nasional Akademi Berbagi. Mereka disini sangat melek banget dengan social media dan anak hits socmed banget. Kalo ngomongin umur sepertinya generasi awal millenial model aku gini akan agak awkward kalo mesti ikutan jadi sobat misqueen atau apalah istilah anak gaul jakarta pastinya yang sangat mengenal selebgram/tweet dan orang terkenal dunia digital lainya. Tapi menjadi relawan di Akber Jadetabek, aku sangat ingin belajar tentang BIG DATA atau menjadi seorang data scientist. Terlambat? Sepertinya tidak ada kata terlambat untuk belajar dan semoga akan ada seri KELAS tentang itu. Ada Prof Roby, Mbak Yanti Nisro dan Bang Zul yang merupakan expert di bidang itu.

Enak banget kan kalo bisa dapat kesempatan apalagi bakalan dibuatkan kelas yang bakalan ngebahas detail tentang BIG DATA setelah social media selalu menjadi materi yang sangat diminati oleh akberians. Relawan Akber di seluruh jagat raya nusantara, mari kita mempersiapkan masa depan dengan KELAS-KELAS yang akan menjadi bekal kita melakukan akselerasi atas pasar yang semakin dinamis. Jika setiap dari kita relawan memiliki keinginan seperti Founder Akademi Berbagi dulu memulai, aku kok yakin banget KELAS Akademi berbagi itu suatu saat kalo direrata minimalĀ ” Setiap Hari ada Kelas Akademi Berbagi”.

Mungkin itu kenapa Tagline Akademi Berbagi, Berbagi Bikin Happy.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *