MENU

by • January 16, 2017 • catatan Perjalan, CommunityComments (2)387

Ketika Algoritma dan Manusia Mencari kebenaran

Wuih, dari judul berat banget pastinya karena mencari sesuatu yang abstrak bernama kebenaran dan tidak jarang tersepakati bahwa kebenaran bisa mempunyai sifat absolute atapun kondisional. Kelas pembuka Akademi Berbagi Jakarta di tahun 2017 ini mempunyai format baru berbentuk diskusi panel. Diskusi yang diisi oleh 4 pembicara terdiri dari kelompok Ilmuwan dan Praktisi.

Prof.Roby Muhammad, Mbak Inayah, Mas Wisnu Kompas dan Mas Arifin Kumparan hadir sebagai pembedah tema kelas akber tersebut dan dimoderatori oleh Sosok Senior Ndoro Kakung alias Mas Wicaksono. Saya duduk di kursi barisan kedua dari depan ditemani thumbler isi kopi yang saya aduk sendiri saat mau berangkat dari rumah karena hujan sedang tidak pas waktu turun di hari sabtu pagi, 14 Januari 2016.

Lebih dari 100 peserta yang hadir pada kelas perdana Akber Jakarta tahun 2017 ini di IFI – Jakarta, mengingat kaliber para guru yang hadir dibuka oleh penjelasan Prof.Roby Muhammad tentang Komposisi Otak Manusia dan penjelasan singkat terkait dengan fenomena issue social media yang berkembang akhir-akhir ini. Otak mempunyai interpretasi dan fungsi primitif yang bertujuan untuk menjaga dirinya dari kehilangan eksistensi alias ada beberapa hal akhirnya kenapa hoax dan issue bisa berkembang biak dengan mudah. Secara Keilmuan sederhana mampu dijelaskan oleh Prof.Roby Muhammad dan saya terkejut-kejut kemudian senyum simpul meng-Amini apa yang disampaikan.

Penjelasan kemudian berlanjut ke Mbak Inayah, kembali menjelaskan dan menambahkan penjelasan dari sisi sosiologis sampai dengan strata kelas manusia. Konsep sederhana bagaimana sebuah revolusi terjadi karena adanya lompatan strata manusia yang tidak wajar  karena tekanan dari strata kelas atas yang tidak dibatasi. Secara logika sederhana, siapapun yang diinjak pasti akan melawan dan revolusi terjadi saat hal tersebut terjadi diluar batas. Dengan tata bahasa yang excellent, mbak inayah berhasil menjelaskan dengan gamblang secara keilmuan.

Berlanjut ke Mas Wisu a.k.a Beginu yang membuka pembahasan dari sudut pandang media melihat media sosial saat ini. Tanggal 14 Januari tahun 2016 ada sebuah peristiwa besar terjadi di Sarinah saat Pengeboman Starbuck dan terjadi aksis heroik Polisi dan Teroris yang terjadi begitu menghebohkan dan sempat mencekam ibukota. Mas Wisnu mengingatkan hal tersebut bertepatan dengan hari kelas akber. Manusia indonesia yang pelupa dan pemaaf serta gampang hilang fokus menjadi sasaran empuk paltform social media yang kemudian peristiwa pengeboman menjadi tidak menarik dicari dan ditelusuri beritanya seperti awak media. Karena kegaduhan social media mengalihkan semuanya kepada Kaos Polisi, Sepatu dan sampai dengan Tas selempang plus Tukang Sate. Sebuah kontradiksi kenyataan yang telah terjadi di sekitar kita bahwa kemudian proses berita cepat kemudian menjadi milik social media dan kemudian media konvensional dengan model digital sekalipun akhirnya hanya akan menjadi rujukan setelah terjadi kegaduhan plus ajang klarifikasi atas issue yang berkembang.

“Social Media itu memang Bangsat” Saya masih ingat betul waktu kelas akhir tahun 2015 kelas akber jakarta yang menghadirkan Mas Arifin waktu itu masih anget-angetnya di CNN Indonesia namun sekarang sudah pindah ke kumparan.com. Sebuah tempat yang sedang dirintis untuk me-redefinisi kembali peran media dan media itu sendiri. Gudlak dengan Kumparan di Linimasa Mas. Masih tentang kegeraman dan seperti tidak terima atas peran Social Media yang mengambil alih posisi para jurnalis alias broker pemberitaan pada suatu rantai penyampaian informasi. Beliau menjelaskan bahwa Social Media tidak punya aturan seperti media yang punya kode etik jurnalistik.¬†

Keempat Guru yang melakukan diskusi didepan saya memang orang-orang hebat yang saya sendiri salut bahwa pemikiran mereka seharusnya bisa menjadi virus untuk melakukan edukasi atas kondisi ambang perpecahan digital yang sedang hangat. Tapi saya sadar, mereka pasti kehabisan tenaga kalo harus melawan arus yang sangat kuat dimana sudah banyak Kesalahan Informasi yang telah berubah menjadi kebenaran baru karena saking banyaknya yang memang secara pengolahan otak manusia ada berada di bagian tertentu. Namun bukan berarti salah Otak, karena proses pengolahan informasi dibandingkan dengan pengalaman hidup adalah sebuah proses kerja algoritma pencarian kebenaran itu sendiri. Dan setelah kelas Berakhir, Diajakin ngumpul bareng Relawan Akber Jakarta dan kemudian dikukuhkan menjadi Bagian Relawan Akber Jakarta, Saya milih belajar jadi dokumentator Kelas bareng Mujib.

Dan Btw Bagian Otak itu ada 3, Bukan Otak kanan dan Kiri!

happy wheels

Related Posts

2 Responses to Ketika Algoritma dan Manusia Mencari kebenaran

  1. Diestra says:

    Nice sharing mas thanks atas review kelas akber jakartanya. Btw saya cukup berat buat memahami kelas ini bagi saya pribadi hehe

  2. diptra says:

    Mas kapan-kapan aku melu kelas akber Jakarta yuuooh. kiro-kiro aku osi ndaftar nde endi yaa event kelas akber berikutnya..?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *