MENU

by • January 3, 2018 • catatan PerjalanComments (0)419

Maiyah dan Ketidakmengajakan

Bebas aku arep nulis opo judule, sing penting saya percaya njenengan pasti ngerti dan kalo ga ngerti pasti googling atau tanya ke temenmu orang jawa. Sebentar, ini kenapa kok tiba-tiba ngebahas Maiyah? Emang saya ini siapa? Tenang saya bukan siapa-siapa, saya kebetulan kalo lagi diparingi waktu luang pas hari jumat minggu kedua biasanya nyari Susu Jahe di Taman Ismail Marzuki trus update status ikutan Kenduri Cinta.

Source : www.kenduricinta.com

Lha wong saya itu memang ngefans banget sama Cak Nun, Meskipun setelah agak sering ngikutin Kenduri Cinta baru mengenal sebutan Cak Nun itu “Mbah Nun”. Ya emang beliau sudah sepuh tapi kok nggih rodo aneh kalo dari kecil saya tahunya Cak Nun trus diganti Mbah Nun sama kayak mesti Ngganti Almarhum Gus Dur dengan Mbah Dur, kurang pas saja dan itulah hebatnya maiyah untuk masalah panggilan bukan lagi menjadi hal prinsipil. Dan akan menjadi hal prinsipil alias rame kalo sampe manggil beliau dengan Kyai, Haji Ustadz apalagi Habib dijamin bakal diumbah njenengan.

Sudah pernah ikut Maiyahan belum? Kalo belum boleh banget untuk ngikut dan cek di kenduricinta.com atau social medianya juga aktif kok ( kaget? Biasa wae akeh wong joos sing ngrewangi dan kekinian alias Jamaah Maiyah Jaman Now). Untuk orang kayak saya yang diajari dari kecil untuk selalu menjunjung tinggi yang namanya pemimpin, dalam hal ini seneng opo ga seneng trus pilihanmu opi dudu ga ngurus, selama ada proses election ( ben rodo mbois sithik) output atas pemilihan tersebut adalah hasil akulturasi serta saringan atas kelapa yang dicampur dengan air berbentuk santan. Bisa memisahkan antara Kelapa dan Airnya tapi butuh waktu untuk mengangkat kelapa di permukaan dan kemudian membuangnya ketempat sampah. Tapi sebentar, Ngapain buang kelapanya kalo dari awal itu memang pengen bikin santen? Ga masuk blas iki perumpaane, tapi ya begitulah proses menghormati dan mendewasakan hasil milkshaking demokrasi suka ngga masuk akal kalo dikembalikan kepada awal mulanya.

Saya berani bilang bahwa Kenduri Cinta selama ini yang saya ikuti apalagi ketika Cak Nun sudah rawuh dan mulai pegang mic untuk beliau memulai sesinya jangan harap menemukan pujian atas pemerintahan Pak Jokowi. Yang ada adalah kritik pedas dan ketidakpercayaanya atas lingkaran yang saat ini ada di sekeliling beliau. Ndak percaya? Lha monggo Youtube sendiri sana buanyak kok yang nampilin isi Maiyahan Cak Nun. Saya pendukung alias pro pak jokowi karena memang secara de fakto dan de yure beliau adalah Presiden terpilih, itu saja sederhananya. Apakah kemudian saya menjadi males dengan Maiyah ini? Woooo yo ndak toh yo, lha pembedanya adalah disini.

Maiyah dan Ketidakmengajakan adalah judul yang saya pilih karena untuk menggambarkan bahwa maiyah adalah sebuah proses budaya dan religiusitas yang sedang menjalani proses alami asimilasi tanpa sebuah proses fermentasi bernama doktrinasi yang akan menimbulkan militansi chauvist. Berarti Jamaah Maiyah ndak militan? Coba aja sendiri cek the water tapi kalo saya sarankan sih jangan.

Kembali ketidakmengajakan, Maiyah memberikan saya sebuah pelajaran penting untuk berada dalam pusaran jamaah yang sedang sangat sayang dan kritis terhadap pemimpinya yang notabene saya sebagai penikmat susu jahe ini tidak melihat ada yang nek0-neko dari yang dilakukan pak presiden di masa pemerintahanya. Pisau bedah saya kurang tajam? Kacamata saya KW? mungkin tapi disitulah yang membuat saya heran, kenapa saya ngga marah dan ngga protes kemudian menulis di socialmedia dan mengecam bahwa maiyah tidak pro-pemerintah? Karena saya tidak melihat ada ajakan untuk membenci Republik ini dalam setiap orasi dan juga tausiah yang diberikan oleh Cak Nun serta penggiat Kenduri Cinta.

Saya melihat cinta mereka kepada Republik ini sedang dibahasakan dengan ala orasi kebencian bung tomo atau Soekarno kepada penjajah agar rakyat menjadi kuat secara pemikiran serta ideologi kebangsaan. Cak Nun adalah Cak Nun yang tidak pernah bisa membenci Republik ini, Tidak pernah bisa untuk mengajak makar atau menggulingkan pemerintahan yang masih ada rakyat tinggal disana, Tidak pernah bisa untuk tidak memikirkan mereka yang masih jomblo dan pengangguran untuk segera dituntaskan jomblo dan nganggurnya dalam setiap doa di Maiyah.

Akhir kata, saya pengen dapat kesempatan lagi diperjalankan ke Kenduri Cinta setelah sekian Juat minggu kedua selalu saja ada aral melintang entah itu males, ngantuk atau kerjaan. Manusiawi banget biar orang ga dateng ke TIM, Semoga tahun 2018 ini nyruput Susu Jahe sambil Maiyahan diberi Jalan selalu.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *