MENU

by • September 10, 2018 • catatan Perjalan, OpiniComments (0)85

Menuliskan itu berat, Dilan Sanggup?

Frasa kalimat awal pemilik blog akan merasakan pengalaman yang sama tentang bagaimana menjaga konsistensi untuk menulis. Blogging memang tidak sekedar memenuhi halaman blog kita dengan tulisan dalam rangkaian huruf dan kata yang bagi sebagian kita juga pernah ngalamin mungkin jadi tukang edit artikel pesanan untuk diposting di blog kita yang sudah dilirik oleh para pemasang iklan.

Saya pernah bertanya hal tersebut kepada seorang blogger senior ” Cak, Itu kenapa sih ya dengan postingan blogger di kota X isinya kayak advertorial berjalan di postinganya?”. Dan kemudian dijawab dengan sederhana, “Itu pilihan yang kita tidak bisa campur adukkan dengan idealisme seseorang. Blog itu adalah halaman dia pribadi yang dia punya hak penuh membentuk gimana akan tampil. Kita sebagai pengunjung hanya bisa memberi subyektifitasnya saja bukan berarti diberikan hak memberikan judgement”.

Membuat caption di Faceboook dan Instagram akan jauh lebih mudah bagi seseorang karena hanya akan terintimidasi beberapa paragraf berbeda memang dengan menulis di blog yang kayaknya kok berdosa banget nulis cuman sekelumit. Bukan berarti panjang dan berseri juga tidak punya kekurangan, di mata pembaca tapi itulah seni independen kalian menulis. Tapi saya sih sering banget blogwalking meskipun agak kurang ajarnya adalah jarang ninggalin komen secara sih komen ditinggalin di IG / Facebook atau Twitter mereka.

Konten sangat bejibun lho kalo kita mau menjadi sang perangkum atas kejadian jagat raya netizen yang tidak jarang kita menemukan duplikasi thread sebuah diskusi dari beberapa view, tinggal kita compile dan tambahkan bumbu penyedap sedikit ala kita maka jadilah tulisan yang “Lagi Ngehits”. Tapi, Dilan mana sanggup begitu ya karena kok ngerasa ga adil aja klaim sebuah tulisan dari hasil copycat edit sana sini. Biarlah itu menjadi bagian dari para pemburu clickbait baik dari kelas media sampai pemburu adsense.

Tidak ada yang boleh disalahkan dalam tujuan setiap orang yang menyebut punya hobi ataupun menulis dan kemudian ada impact komersial atas hal tersebut. Rejeki jangan ditolak, Yo Wis Ben ngunu wae mlakune. Fenomena Via Vallen adalah hal yang menarik bagi saya ketika kemunculanya yang dikenalkan dari gremengan lagu temen trus kemudian ditunjukin videonya dan kemudian lupa. Tapi untuk saat ini siapa yang tidak tahu via vallen, dengan image yang terbangun dengan sebuah anomali atas glamornya kompetisi dangdut berjam-jam dan penuh dengan sorakan dan goyangan yang penuh artistik arahan sebuah pertunjukan.

Via Vallen kemudian Menembus sasaran saat anak panah yang dilepaskan di Ulang Tahun NET berlanjut menjadi Penyanyi Theme Song Asian Games. Tidak sedikit cibiran dan juga kontra atas kiprah si mbak satu ini tapi satu hal bagi saya, She is The Choosen one. Sebuah proses pemilihan Via Vallen tidaklah mudah dan penuh pertimbangan dari pemilik konsep atas pertunjukan dan gebyar ASIAN Games 2018 dan menurut saya sih, Pesan itu sampai. Kenapa Dangdut? Kalo temen-temen ngikutin BEKRAF, tahun 2018 ini DANGDUT Adalah program nasional dan internasional yang berkaitan dengan musik identitas Indonesia.

Dan saya kemudian memasukkan Lagu ASIAN GAMES 2018 dalam playlist spotify yang menemani saya berkendara setiap harinya. Tak lupa akhirnya, Lagu fenomenal Via Vallen pun masuuuuk pak eko.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya dan terima kasih sudah mampir membaca tulisan comeback hari ini, 10 September 2018.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *