MENU

by • November 23, 2015 • catatan PerjalanComments (0)843

Musikimia, Dan Bernyanyilah Senyawa

Mereka menghilang, mereka ditelan oleh tembang keagungan karya musik yang dirindukan para pengelana rasa dan jiwa akan nada. Sejauh itu pula ingatanku kemudian menyeruak ke masalalu, saat pertanyaan yang tidak pernah terjawab sampai dengan detik ini “Kenapa Lagu Sobat tidak pernah ada Video Klipnya?”.

Terlalu pagi jika harus kemudian bernyanyi sendiri dengan audio video yang aku dengar dari handsfree di Channel Youtube setelah mereka, Musikimia mengumumkan lagu mereka “Dan Bernyanyilah” bisa dinikmati disana tanpa harus menghisap dalam tembakau yang kubakar sore itu mengingat cerita mereka dulu. Aku masih ingat di sebuah kosan Jl.MT haryono, Malang waktu itu ada konser PADI dan aku tidak cukup nyali untuk hadir melihat kesana namun hanya menitip harap kepada Pak Heri, seorang dosen Universitas Mulawarman yang rupanya adalah paman dari Rindra, Sang Bassist Idola untuk memintakan tanda tangan kepada mereka.

Aku menyimpan tandatangan di secarik kertas hotel yang cukup bagus entah darimana beliau mendapatkanya. Pengalaman dan kenangan tentang mereka tak pernah aku lupa dan aku pun yakin jika kertas itu masih ada namun entah dimana sekarang berada dalam tumpukan dokumen masa lalu yang ikut terkemasi. Perjalanan hidupku memang sangat berwarna selama 10 tahun terakhir setelah 5 tahun menghabiskan masa kuliah di bumi Arema, kemudian beranjak ke Ibukota mengadu nasib dengan waktu itu tahun 2006 aku gagah menghadapi Jakarta dengan Gaji tidak sampai dua juta, Sarjana waktu itu pasaran segitu menurut bosku.

Terlalu dalam group musik ini mempengaruhi perjalanan hidupku, terlalu kuat karakter liriknya menjadi bagian dari cerita penyemangat hidup. Menunggu mereka mengajak bernyanyi dalam suasana apapun hati kita adalah sebuah ajakan dari tukang tempa besi yang mengalunkan tala dan logam cairnya dalam sebuah bentuk kenangan. Di Soundcloud, aku pun memberanikan diri untuk mengcover lagu andalan mereka dulu. Di status facebook aku pun memberanikan diri untuk menulis kerinduanku akan karya mereka, dan meski usiaku sekarang menginjak 33 Tahun tapi aku tak harus malu mengakui kekagumanku dengan karya mereka. Tak peduli mereka mengganti nama atau jubah bahkan sampai mengoperasi plastik wajah mereka pun tidak akan membuatku menyepi akan jiwa yang mereka sajikan lewat musik dan komposisi.

Sisi distorsi yang tidak berisik seperti penjelas atas kehidupan yang tidak mungkin jernih seperti petikan senar gitar akustik yang samar menjadi pelapis akan komposisi. Aku sekarang ada di bumi lancang kuning, dan sedang jatuh cinta dengan musik melayu dalam sebuah aransemen ethnic supremasi sejarah. Aku pun terkejut saat kawan-kawanku di Riau Rhythm Chambers Indonesia mengabarkan bahwa karya mereka sedang dimixing sama orang jakarta bernama Stephan Santoso.

Aku pun sontak bertanya ” Stephan Santoso Musikimia Bang?” Jawab Tegas “Iya” oleh sang komposer, Rino. Aku tersenyum bahagia menerawang jauh tentang apa yang telah mereka alami sampai dengan album ini akhirnya bertemu senyawanya ditangan stepahan Santoso, Musikimia. Dan kemudian, alangkah bahagianya ketika Namaku dan Stephan Santoso ada di dalam Cover Album yang Sama di Riau Rhythm Chambers Indonesia.

Musikimia kau kasih nama Group Bandmu; fadly, Rindra, Yoyok dan kemudian kau gandeng Stephan Santoso agar bersenyawa dalam karyamu seperti sudah mempersiapkan kembalimu menyapa dunia yang sedang dirundung bertubinya ke-akuan serta berlombanya para penguasa negeri menjadi pemain panggung sandiwara negeri. Aku teringat kembali akan ucapan kawanku seorang komposer, Rino ” Musik itu Harus Dirasakan dengan Jiwa yang jujur, dengan sendirinya tidak akan ada Ego dalam permainan alatmu, terutama untuk vokalis”. Inti dari ucapan sang komposer pun selang seminggu kemudian aku dengar dalam bait “Nyanyikan Apa Yang Kau Rasakan, Rasakan Apa Yang Kau Nyanyikan”.

Istriku sekarang sedang hamil, dan saat aku tahu lagu “Dan Bernyanyilah” keluar di Youtube langsung aku tunjukkan ke dia ” ini yang selama ini abang tunggu dek, mereka kembali bernyanyi. Coba dengerin sayank liriknya kuat banget”. Istriku pun tersenyum karena memang tahu betul aku adalah fans berat Padi /Musikimia. Dan pada suatu pagi, dia bangunkan aku dengan memutar lagu itu lewat handphoneku yang disambungkanya ke speaker televisi karena tahu dimana aku menyimpan lagu itu.

Sampai dengan sekarang, aku tidak pernah dapat kesempatan untuk bisa melihat performance mereka langsung. Tapi aku yakin bahwa mereka memberi nama orang sepertiku sebagai senyawa, artinya akan ada ramuan Musikimia yang mempertemukan senyawa-senyawa dalam sebuah ikatan kimia. Untuk itu, aku selalu yakin, suatu saat aku akan punya kesempatan untuk sekedar bermain gitar dan bernyanyi di depan mereka. Meski akupun tidak yakin akan sanggup melakukanya jika ada kesempatan tersebut.

Sebaiknya aku mengakhiri tulisan ini dengan kembali tersenyum saat kembali teringat jaman kuliah tahun 2000an ke warnet bela-belain untuk ngecek website sobat padi. Dan…Bernyanyilah Senandungkan isi suara hati, inilah suara hati Senyawa Sobat Padi yang mendengarkan “Dan Bernyanyilah” adalah tentang kenangan-kenangan perjalanan hidupku yang ternapak tilaskan dalam lirik-lirikmu, MUSIKIMIA.

Salam Sembah Dari Tanah Tua Melayu, Riau.

Notes:

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *