MENU

by • October 10, 2015 • catatan Perjalan, OpiniComments (0)205

Negara Harus Dipaksa, Aktifis Renta

Berbicara tentang semangat pergerakan dan politik akan selalu menyenangkan karena adrenalin kita terpacu untuk mengungkapkan apa yang terpendam dalam jiwa manusia, BERONTAK!. Konteks yang cukup absurd untuk kita para masyarakat awam ini tentunya, karena telah ada sebuah blokade tindakan yang akan dikonotasikan hal berpendapat tentang politik hanya milik para kader parta dan mereka yang ada di gedung bundar senayan. Tulisa ini terinspirasi saat Adian Napitupulu di Acara Mata Najwa  Menghadirkan Para Aktifis, bagi saya pesan jelas disampaikan oleh Kawan Adian, NEGARA HARUS DIPAKSA!!!

Jaman emang lagi susah, kayak yang dibilang kebanyakan orang karena tidak sedikit yang bilang Jaman biasa aja. Manusia butuh sandang-pangan-papan artinya perut harus terisi, pakaian layak dan ada tempat berteduh. Sederhana kok, sesederhana kita juga berfikir bahwa Jaman sudah praktis dan kita pun juga praktis bahkan kalo bisa kita portablekan segala urusan kita.

Kemudian timbul pertanyaan, Gimana caranya untuk menyelesaikan yang prioritas tapi tidak dengan cara2 formalitas? Sudahkah kita menjawab, kalo bekerja dan mencari Nafkah adalah Hal Prioritas agar sandang-pangan-papan diamankan, Sudahkan kita Melakukanya juga dengan prioritas? Tidak sekedar alias formalitas.

Dua Hal yang menjadi pertanyaan retoris untuk mereka yang lantang berbicara politik dan masukan kepada negara ini, sudah selesai belum urusan dapurmu?sandang pangan lan papan?. Bukan berarti menafikan suaramu kawan, tapi memang politik tidak untuk mereka yang lapar atau mereka yang gelandangan apalagi gembel tak beraturan yang hanya bisa orasi. Politik akan melibas mereka yang belum cukup atau selesai urusan Sandang – Pangan dan Papannya. Percaya atau tidak it’s Happen!.

Kaum buruh/ Marginal dan apapun lah kaum kemiskinan akan bersuara, saat idealisme bisa dibeli dengan nasi bungkus dan uang transport tak butuh suara seperti itu. Memang Negara harus dipaksa untuk berbuat, namun yakin atau tidak Memaksa Negara Harus dengan Suara Kebebasan.

Jangan memaksa Negara saat dirimu lapar karena saat Negara tahu dirimu lapar, dia punya Bulog yang akan membuatmu mati kelaparan dalam Lumbung Padi.

Jangan Memaksa Negara saat dirimu sedang Tak Punya papan dan tempat berteduh, karena Negara punya Rusun dan Apartemen Rakyat yang akan membuatmu Nyaman berteduh menunggu Kematian dalam Kenyamanan.

Jangan Memaksa Negara Saat Dirimu tak Punya Sandang atau “Baju” yang layak, karena Negara adalah Pemilik Boutique Pencitraan atas “Baju” apa yang kamu inginkan sampai akhinya kau terlena dalam kematian jiwa.

Negara Harus dipaksa , Negara harus mau dipaksa untuk melakukan apa yang rakyat inginkan, karena negara dibentuk oleh rakyat. Sudah cukup berkoar tentang pemberangusan HAM dan ketidakseriusan penanganan kasus di Negeri ini jika memang para aktifis masih parsial dalam bergerak dan masih sibuk mencari HEGEMONI atas kelompok demi eksistensi di MEDIA. Pencapaian terbesar hanya diwawancarai media dan setelah itu sibuk mempigurakan apa yang muncul di televisi posting sana-sini.

Saat Kabut Asap menjadi Hal yang paling prinsipil untuk disuarakan, suarakan dan gemakan Paksaaan untuk NEGARA menyelesaikan tanpa ancaman merdeka, tanpa hujatan dan mari kita fokus MEMAKSA Negara berbuat dan memadamkan Titik API. Mari Memaksa Negara Lebih keras bekerja, lebih serius menangani dan tentunya Lebih banyak mendengar Masukan dari Akar Rumput bukan dari Suara Media Jiamput dengan berbagai kepentingan sehingga tayangan berita yang tersedia menjadi CUT-VERSION, KANCUT!!

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *