MENU

by • October 20, 2015 • catatan Perjalan, OpiniComments (0)235

Setahun Sang Ketujuh

Tanggal 20 Oktober 2015, adalah tepat setahun Pelantikan Presiden Ketujuh Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo dan Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla, Selamat Bekerja Setahun Ini Pak. Tanggal ini pula mengajak saya menghitung bahwa sudah 4 Tahun 4 Bulan mencari Nafkah di Bumi Lancang Kuning Pekanbaru, RIAU.

Saya jadi teringat ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pekanbaru diberikan amanah untuk mengawal pekerjaan yang bagi saya adalah hal baru secara detail teknis namun masih bisa dipelajari karena yakin ada team yang akan membantu menjalankan amanah ini. Akhirnya menerima tawaran untuk menjauh dari hiruk pikuk ibukota adalah pilihan waktu itu.

Bekerja dengan orang-orang baru, tidak ada satupun yang dikenal dan tentunya harus menjadi pembawa misi perusahaan dan menjaga kestabilan gejolak adanya orang baru yang masuk dalam lingkungan lama. Saya adalah orang baru itu, yang harus membaca secara cepat dan mensinergikan mesin-mesin manusia yang sudah otomatis bekerja karena itu adalah mata pencaharianya. Matur Nuwun Gusti, Team yang diberikan sudah berada di level sudah tahu apa yang harus dikerjakan.

Mencari ritme dalam lingkaran rotasi sebuah business services adalah hal yang menyenangkan setelah para stake holders telah teridentifikasi. Pergerakan ketidakpuasan akan pemimpin baru yang masuk, resistansi terhadap gaya kepemimpinan sudah pasti. Apalagi ketika kita berbicara tentang isu SARA yang digulirkan, Kenapa harus Orang JAWA?. Setiap langkah harus waspada akan jebakan ataupun sebuah perangkap untuk menjatuhkan adalah hal yang mahfum terdengar ditelinga dari bisikan sana-sini. LELAH? Pastilah manusia seperti saya lelah mendengar dan harus mau mendengarkan setiap isu yang masuk ke telinga dan tulisan.

Dan Kemudian, Berpikir keras tentunya dengan fakta serta keadaan yang saya alami dinamikanya. Kalo saya menyerah, bisa saja tinggal kabur balik ke Jakarta dan cari kerjaan lagi. It’s DONE! hidup mereka tetap jalan dan hidupku jalan juga.

Jadi Mikir Gimana dengan PRESIDEN Ngejalanin Negara ini?

ketujuhSang Presiden Ketujuh sedang merayakan tahun pertamanya menjabat sebagai nahkoda Negara Kesatuan Republik Indonesia. Euforia PEMILU Langsung yang berlangsung tahun 2014 memang sangat luar biasa untuk pembelajaran politik era baru bangsa Indonesia.

 

Konser Kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di negara kita untuk dukungan kepada seorang calon presiden menjadi cerita dalam sejarah Republik ini. Saya termasuk yang memberi apresiasi tinggi atas inisiatif acara ini dan menunjukkan bahwa people power masih bisa untuk menggulingkan para oknum politisi oportunis yang sekarang ngendon di Senayan.

Harapan besar muncul kepada Pak Jokowi dengan berbagai cerita suksesnya menjadi walikota solo dan beberapa saat gebrakan blusukanya di Ibukota, Jakarta mudah kita temui di internet. Proses pembelajaran politik akan dahsyatnya dunia internet dipertontonkan untuk berlomba menyaring informasi Positif atau negatif.

Setahun sudah Pak Jokowi Menjabat, hari ini saya membaca di twitter Sekretaris Kabinet memaparkan progress dan Program milestone yang sedang dibangun kabinet Kerja. Dan ternyata memang sepertinya penanganan kebakaran hutan serta penghentian asap ini tidak masuk dalam bidikan kabinet. Tentu saja hal tersebut mudah dibantah, dan kata siapa tidak diurus, ada kok tapi tidak prioritas. Diakui saja karena hal tersebut tidak populis untuk menjadi penyumbang dollar Membaik.

Dua Tahun terakhir, 2014 dan 2015 saya adalah orang yang berisik banget teriak #MelawanAsap di media sosial. Karena Pekanbaru adalah salah satu kota yang paling berisik di Social Media soal #MelawanAsap. Artinya tidak salah saya menjadi bagian mereka yang TIDAK DIAM terhadap Bencana Kabut Asap yang pada awal disuarakan 3 Bulan Lalu dianggap enteng sepertinya serta dilumrahkan oleh para pejabat daerah.

12 Bulan sudah Pak Jokowi Memimpin negeri ini, 3 Bulan Sudah Kabut Asap menjadi Hal yang terburuk sepanjang sejarah. Artinya pak 25% dari setahun bapak disibukkan oleh Kabut Asap yang menggila di Sumatra dan Kalimantan. Teriakan rakyat di Media Sosial masih juga dianggap sebagai provokasi dan tidak menghadirkan kabar sesungguhnya dan cenderung memanaskan suasana. Saya dan Kawan-kawan yang berteriak di #MelawanAsap serta beberapa gambar yang mereka upload menjadi konsumsi media nasional adalah benar adanya bahwa Kabut Asap telah menjadi Bencana serta Tragedi.

Suara teriakan para korban kabut asap mungkin terdengar lirih bahkan nyaris tak terdengar sampai istana negara, ataupun suara teriakan #MelawanAsap warga Sumatra dan Kalimantan kalah nyaring dengan YEL-YEL yang didengungkan di stadion Gelora Bung Karno. Jika boleh saya jujur menyampaikan, kawan-kawan yang ada di Sumatra Kalimantan mulai luntur kepercayaan bahwa Kabinet kerja akan bisa melakukan suatu terobosan ataupun langkah sigap dilapangan memadamkan dan mengurus para korban kabut asap.

Di Lapangan banyak sudah para relawan yang bergerak semampunya dan semaunya untuk menyelamatkan warga terpapar ataupun memadamkan api dengan alat seadanya karena rakyat tahu PEMDA mereka Setengah Hati dan Menyalahkan Anggaran Pusat tidak Turun. Mental para birokrat daerah harus direvolusi, bukan rakyat yang sudah membuat kantong-kantong relawan. Mereka yang berkicau di social media juga bergerak nyata di sekitarnya pak, TRUST ME!.

Mereka sedang menunggu dalam keputusasaan Pemimpin Ketujuh Mereka akan memberikan langkah nyata tanpa publikasi media datang meyapa dan memapah mereka yang lelah marah dan geram kabut asap tak kunjung usai.Dan tenang Pak Jokowi, Masyarakat Sumatra dan Kalimantan tidak Menyalahkan Bapak sebagai Presiden Ketujuh karena Masyarakat Tahu TUHAN dan HujanNya yang akan menyelesaikan kabut asap ini.

Rakyat Indonesia Kuat, mereka sudah terbukti bertahan dalam kondisi apapun. Semoga hati bapak tergerak dengan KABINET KERJA serta para Wakil Rakyat di DPR memberi solusi terhadap korban kabut asap, Api bisa dipadamkan.

Selamat atas pencapaian dalam bidang Lainya dan tetap semangat dengan NAWACITA atau apalah Cita-Cita meletakkan Pondasi dengan Satu Tujuan Indonesia Lebih Baik.

Indonesia Bukan hanya Jakarta dan JAWA, Jangan Biarkan INDONESIA Terkotak seperti Baju Kotak-kotak yang menjadi ciri khasmu pak. Cukup Sudah 70 Tahun Jawa dan Jakarta Menjadi Anak Emas Negara. Saatnya Bangun dan Kilaukan INDONESIA selain Jawa dan Jakarta.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *