MENU

by • April 13, 2017 • Opini, Project ManagementComments (2)211

Siapa Pemilik Data Pasar?

5 tahun terakhir aktifitas saya lebih banyak dihabiskan dengan melakukan analisa terhadap data-data yang dikeluarkan oleh tools. Untuk Service Desk Manager ada data ticketing tools dan juga data telpon dari customer serta aktifitas para service desk agent.

Saya sedang tidak membahas tentang IT Service Desk, tapi membahas tentang bagaimana data yang diolah dan dianalisa dengan tepat adalah sebuah hal yang tidak memerlukan skill tinggi namun kemauan serta kejelian memainkan logikan dan  hukum sebab akibat atau sering orang bilang memainkan teori konsiprasi.

Ranah politik adalah hal yang paling asik dan memabukkan untuk mengeksplor teori konspirasi, percaya atau tidak bahwa kampanye “ANTI HOAX” adalah buah dari teori konspirasi atau hukum sebab akibat sangat dikagumi oleh masyarakat kita. Begitupun dengan DATA membutuhkan seorang pengolah yang mempunyai interest tinggi terhadap TEORI Konspirasi. Dalam ilmu cocokologi, yaitu kita mencocok-cocokan sesuatu untuk mendapatkan arah jawaban atas sebuah postulat atau kesimpulan awal bahkan sebuah keputusan, bermain dengan data adalah hal yang sangat mengasyikkan.


Beberapa bulan terakhir saya bertemu dengan senior-senior di kampus yang sekarang menduduki jabatan strategis di XL, Telkomsel dan Mastel juga BRTI serta pas di kelas Akber Jakarta juga Gurunya dari Indosat bahkan menyebutkan ” Pemilik Kedua Manusia Setelah Tuhan Adalah Perusahaan Telekomunikasi”. Banyak bantahan dan kernyitan dahi saat dunia digital yang dimulai revolusinya oleh GOOGLE yang telah ditahbiskan sebagai Maha Tahu ada sebuah pernyataan bahwa “TUHAN” itu bukan Google tapi perusahaan telekomunikasi?

Kita bicara di Indonesia saja, karena toh saya memang ga tahu luar negeri seperti apa dan ga pernah ngrasain hidup lama disana kecuali merasakan wifi gratis hotelnya saja. Perkembangan Gadget di Era Nokia dan Siemens monochorme serta Colour sudah lebih dahulu tergilas oleh revolusi Digital dimana sekarang Gadget yang dilihat adalah OS yang dipakai, bukan lagi “HPmu merk apa?”, Yup Saya masih sebut HP karena kalo nyebut SP (Smartphone” kok kayaknya maksa banget sama ketika kita sibuk benerin orang nyebut ” Busway daripada Bus TransJakarta”.

Pada sebuah kesempatan, saya menuliskan pendapat saya di Linkedin Profileku bahwa boleh jadi “Tuhan” kedua manusia adalah perusahaan telekomunikasi dengan artian seluruh akses kita ke internet memang bermula dari koneksi internet yang notabene istilah “Paket” masih didominasi oleh perusahaan telekomunikasi. Namun pada suatu ketika, saat data tersebut hanya dimiliki namun tidak diolah mendekati data real, maka akan menurunkan kadar pemanfaatan atas akurasi data tersebut.

Ngomongin pemilik data pasar, artinya ada kebutuhan pasti antara penjual dan pembeli. e-Commerce adalah jawaban atas siapa pemilik pasar sebenarnya. Kok e-commerce sih? Kalo menurut pendapat saya yang sangat awam adalah sesederhana  :


  • Saat Aktivasi kartu internet atau telpon, apakah kita bisa memalsukan atau mengisi asal data tersebut? Jawabanya sudah pasti bisa dan juga kita sadar melakukan hal tersebut karena merasa ” Enak Banget Loe Minta dan Ambil Data Gue”.
  • Lho Kan kalo yang post paid mesti bener isinya? Trust me deh kalo untuk urusan satu ini kita ngga bayar tagihan terakhir paling di blokir dan ujung-ujungnya resikonya kita ganti lagi. Namun yang terjadi adalah tetap kita ga ada awareness ngisi alamat dan data dengan sebenarnya.
  • E-Commerse? atau lebih tepatnya belanja online deh. Merekalah pemilik data paling valid saat ini karena apa?
    • Pemilik Toko akan mengisi datanya dengan benar, Kontak dan Tempat usahanya. Kalo dia menipu, selesai sudah hidupnya. Tapi kok mau jualan tapi tujuanya bangkrut tutup lapaknya kan ga mungkin.
    • Pembeli, Kita pasti nulis alamat tempat tinggal kita bahkan sampai ancer-ancernya setelah gundukan polisi tidur keberapa? Benar atau tidak? Jangan senyum-senyum kawan, akui saja. Bahkan jika perlu kita mencantumkan nomor HP lebih dari satu untuk memastikan barang yang kita pesan sampai. Ini bukan nominalnya tapi tentang masa kita beli tapi barang ga nyampe?
    • Percaya atau tidak, dengan tawaran tidak ada minimum belanja di Toko Online  e-commerce kalo saya daripada nyari asesoris HP yang harganya 12 ribu mesti muter nyari toko mending klik dan tunggu barang sampe, bener dunk?

Dari ilustrasi diatas maka tidak mengherankan kenapa bisnis e-commerse dan fin-tech kemudian menjadi 2 hal yang sedang tumbuh bahkan dibilang jenuh perkembanganya bagi saya sih tergantung bagaimana kita mengolah data-data yang ada.

Semestinya Negara ini sudah punya data setiap Meteran PLN yang nancap ditembok setiap rumah dan itu adalah……………………………………………………..

happy wheels

Related Posts

2 Responses to Siapa Pemilik Data Pasar?

  1. Artha Amalia says:

    Iya sih. Kemarin pas belanja dg cek harga dulu di priceza.co.id data saya masuk di toko online yg saya tuju. Mereka dapat data sukarela dari saya. Tapi kalau gak gitu, gimana cara pengiriman barang belanjaan saya dong? Hmmm simalakama yaaa

    • Rendra says:

      Hi Mbak Artha,

      Thank you sudah mampir ya.
      Kalo dibilang simalakama semoga tidak disalahgunakan data kita karena memang siapa sih yang ga pengen beli barang dan barangnya nyasar?:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *