MENU

by • April 27, 2011 • UncategorizedComments (0)120

Simalakama infotainment dan Klaim Jurnalistik

Terkaparnya nurani dan juga moralitas untuk sebuah oplah dan rating telah mengalahkan semua warning dan teriakan untuk infotainment berhenti menyuarakan sebuah kebenaran ataupun dugaan sekalipun hanya gosip belaka dengan dalih dan beking jurnalistik.

Kabar yang sudah sangat membuat muak bangsa dan sampai kepada Presiden serta warga dunia lain dengan berlarut-larutnya kasus video Porno yang selalu dibalut dengan kata mustajab “MIRIP” namun tidak pernah habis berdebat dan bersilat adovkasi dan bahasa para sarjana hukum itu yang juga berklaim ria bahwa mereka yang paling memahami hukum dan pasukan penyelamat dari semua krisis moralitas multidimensional.

Sesaat lalu pas berita ini keluar dan meledak di media saya sangat kecewa pertama kali mendengar dukungan seorang pakar islam liberal terhadap person yang diduga terlibat dari sinedrama “MIRIP” , meskipun itu adalah sah-sah saja kok bagi beliau yang memang memiliki jam terbang dan juga kajian kitab-kitab shahih serta dalil-dalil mujarab dan juga intelektualitas yang dikombinasikan dengan baik oleh pengetahuan tentang FIQIH , Namun tidak seharusnya bersuara hanya ingin menjadi Beda saja dari orang-orang yang menghujat.

Saya pun tidak menghujat mereka yang melakukan namun lebih kepada kebencian saya terhadap kebohongan yang dipertahankan sementara bukti nyata telah ada dimata mereka, meskipun ada juga apologi bahwa siapa sih yang mau aibnya diecerin diemperan toilet seperti itu. Keangkuhan yang saya lihat dari skenario yang sedang dimainkan oleh mereka yang mencoba tetap mengambil keuntungan dari sebuah drama opera sabun semi-blue dan cenderung BLUEFILM berbalut drama dengan alur sangat menjengkelkan.

Sudah cukup lah untuk para pelaku atau disebut korban atau apalah yang jelas adalah ketiga orang itu serta para pasukan advokatnya, sekarang kita melihat dari sebuah susbstansial lebih besar dari kasus ini adalah  PEMBERHALAAN dan juga PEMAKARAN informasi oleh Infotainment dalam merajai dunia jurnalistik dengan berita yang bukan memuat sisi jurnalisme. Anda mengernyitkan dahi dengan pernyataan saya? oh jangan salah dulu silahkan anda lihat lah di koran dan online portal news tentang berita ini tanpa perlu saya sebutkan linknya karena saya yakin anda sangat lihai mencari informasi cemen begini dibanding mencari link download videonya bukan?

Buah simalakama telah dimakan oleh infotainment yang selama ini mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari Jurnalistik dan jurnalisme itu sendiri. LBH PERS dalam kesempatan nampang di berita portal web okezone,kompas, dan detik menyatakan bahwa produk dari infotainment bukanlah produk jurnalistik dan lebih sangar lagi akan ada himbauan untuk tidak menayangkan tayangan infitainment bagi industri perfilman ataupun media.

Tapi Bisakah itu dilakukan? saya berharap besar hal itu sangat bisa dan ada kemauan dari insan pers dan jurnalisme yang selama ini telah dipukul rata menjadi penyerang dan penentu karakter ataupun karir dari seorang bintang ataupun pejabat politisi. Karena sudah waktunya JUrnalisme itu bukan hanya bermodal kartu pers dengan gantungan tali , kamera dan mic tapi lebih kepada pengetahuan dan otak-otak brilian sehingga mampu melihat dengan nurani dan menuangkan tajam dengan mata investigasi serta yang paling utama adalah MENYAJIKAN BERITA serta MENGABARKAN untuk MENGIMBANGKAN tapi tidak untuk Memprovokasi atau Menyesatkan Bangsa yang sangat kecanduan dengan koran dan Berita..

Yang ngetik ini cuma tukang ketik biasa kok, silahkan saja untuk berdiskusi dan mudah-mudahan bisa lebih memperjelas posisi dan peran masing-masing untuk perbaikan moralitas serta mentalitas bangsa ini yang sudah tertutupi oleh skandal-skandal yang tak kunjung dikubur.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *