MENU

by • October 12, 2018 • Community, OpiniComments (0)178

Social Media Camp : Strategy, Content & Buzzers

Hari Sabtu, 06 Oktober 2018 bertempat di DBS Bank Tower Lantai 34, Akademi Berbagi Jadetabek kembali menghadirkan kelas dengan mengambil tema ” Social Media Camp : Strategy, Content & Buzzers. Kelas ini adalah kelas kerjasama dengan pihak DBS Bank yang menghadirkan 3 Guru sekaligus yaitu Ainun Chomsun, Ndorokakung dan Mona Monika.

Ainun Chomsun adalah Founder Akademi Berbagi yang merupakan praktisi dan expert dalam bidang social media strategist. Malang melintang di dunia digital dan sangat concern terhadap parenting di era digital serta literasi digital. Ndorokakung, Seorang blogger senior yang ditahbiskan sebagai “Guru Buzzer Indonesia” adalah sosok yang dekat dengan Akademi Berbagi diluar aktifitas profesional beliau. Mona Monika, adalah Executive Director, Head of Group Strategic Marketing Communications, DBS Indonesia.

Guru yang mempunyai segudang pengalaman dan tentunya murid yang hadir juga tidak kalah antusias dari berbagai background profesi baik terkait dengan social media, digital campaign atau brand. Kelas Social Media Camp ini dipandu oleh MC sekaligus moderator dari Relawan Akademi Berbagi Jadetabek, Danas. Sabtu pagi yang sangat produktif untuk yang terlibat dalam kelas social media camp ini.

Guru pertama yang mengisi materi adalah Ainun Chomsun. Digital di Indonesia menurut data Januari 2018 telah mencapi 130 juta pengguna social media. Tidak salah kemudian Social media menjadi kebutuhan baru yang harus ada dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Social Media tidak dapat diterjemahkan dalam sederhana mempunyai akun social media, posting dan sudah selesai. Social Media bagi organisasi / Perusahaan tidak bisa hanya dianggap sebagai perangkat yang harus punya agar kekinian. Social Media adalah tentang mau untuk mendengar terlebih dahulu tentang apa yang publik (Market) harapkan dan apa yang organisasi ( perusahaan) harapkan, Temukan irisan dari kedua hal tersebut.

Jika lebih lanjut kita ingin serius untuk menggunakan social media, maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan antara lain adalah Tujuan, Target Audiens, Teamwork, Channel, Content. Distribusi & Enggagement, Monitoring & Pelaporan, Budgetting. Hal tersebut adalah sebuah mata rantai yang memiliki dependensi satu-sama lain untuk dapat memberikan sebuah impact optimal atas penggunaan social media bagi organisasi atau perusahaan. Mari kita mencoba mengingat tentang untuk apa sih social media yang selama ini sudah kita gunakan?. Banyak Hal yang dapat kita lakukan dengan dan di social media.

Pelayanan publik ( Customer Care), Edukasi, Informasi, Promosi, Riset, Movement dan banyak hal lainya yang dapat didefinisikan sebagai tujuan penggunaan social media. Pasti dari kita pernah melayangkan komplain atau bertanya tentang sebuah kualitas layanan yang kita nikmati dan disediakan oleh penyedia jasa kemudian mengalami degradasi mutu layanan bukan? alias kita ngetuit komplain kalo bahasa mudahnya. Berbicara tentang social media maka kita harus mempunyai pemikiran bahwa ONLINE Tidak segalanya alias jangan pernah melupakan aktifitas OFFLINE, Harus seimbang seperti jodoh yang harus dikejar tidak selalu dimimpikan saja. Kekuatan Social Media adalah tentang CERITA, berbeda dengan Media Masa yang kekuatanya pada BERITA.

Melanjutkan tentang CERITA yang merupakan kekuatan dari Social Media, Ndorokakung alias Wicaksono kemudian menyambung penjelasan dari Ainun Chomsun dengan membuka slide tentang FRAMING alias bagaimana mengemas sebuah cerita tersebut kemudian muncul. Sesuatu yang viral atau banyak dibicarakan di social media tak jarang kemudian menjadi sebuah BERITA dalam media cetak nasional ataupun versi online.

Berbicara hal tesebut kita mesti tahu tentang INFLUENCER & BUZZER. Influencer adalah   orang-orang yang punya followers atau audience yang cukup banyak di social media dan mereka punya pengaruh yang kuat terhadap followers mereka, seperti Youtuber, Blogger, selebriti, Industrial Expert, Aktifis atau pegiat hobi yang tentunya memiliki kredibilitas baik dan menyenangkan. Siapapun dengan ketekunan untuk dapat menjadi bagian dari beberapa kategori tersebut akan bisa menjadi influencer. BUZZER itu apa? bahasa sederhananya dalah Micro Influencer, Meskipun pada akhirnya INFLUENCER dan BUZZER seringkali tertukar posisi dan BUZZER memiliki konotasi lebih negatif karena identik dengan “bayaran”.

Algoritma kemudian menjadi sebuah “Agama” baru bagi para pemain social media khusunya untuk pelaku bisnis yang memang menjadikan statistik serta pertumbuhan klik, likes dan engagement terhadap konten yang mereka promosikan kemudian menjadi tidak bekerja seperti biasanya pattern yang mereka terima. Facebook, Instagram, Google terus merubah algoritma mereka yang berurusan dengan promosi iklan serta kenyamanan user akan pengalaman penggunaan aplikasi mereka. Nasihat menarik dari ndorokakung adalah ada baiknya kita tidak mendewakan algoritma namun lebih sering melihat kondisi nyata pasar serta paling utama, selalu percaya REJEKI tidak tertukar dan usaha ada pasang dan surut. Hal ini untuk menghindari kita stress dan mengkambinghitamkan algoritma saat promosi kita di social media tidak sesuai harapan.

Sesi Terakhir ditutup dengan Mona Monika, Executive Director, Head of Group Strategic Marketing Communications, DBS Indonesia yang sharing tentang bagaimana DBS mengkampanyekan #Livemoresociety dan #Livemorebankless dalam keseriusan DBS Bank bertransformasi menjadi Perusahaan Digital Banking. Penggunaan social media dan produksi konten tentang kehidupan brand new bankir adalah hal menarik yang saat ini menjadi pintu mereka untuk lebih mengenal masyarakat dan berinteraksi.

 

Sampai jumpa di Kelas Akademi Berbagi JADETABEK. Silahkan ikuti Akademi Berbagi di social media channel mereka.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *