MENU

by • December 29, 2015 • CommunityComments (6)369

Social Media Kok Dibilang Bangsat?

Masih cerita dari Kelas Akhir Tahun Akademi Berbagi Jakarta, Sabtu Pagi, 19 Desember 2015 Pukul 09:00 WIB bertempat di Graha XL Mega Kuningan.

Dibuka oleh MC dari relawan AkberJKT, kemudian mbak Ainun menjelaskan sekilas dan perkenalan tentang akademi berbagi sampai dengan status terakhir yang sudah bertransformasi menjadi akademi berbagi Foundation. Dilanjutkan dengan mas Imam Subchan selaku Ketua UMUM Akademi Berbagi menjelaskan beberapa hal tentang agenda akademi berbagi tahun 2016 terutama tentang LLDĀ  ( Local Leaders Day ) 2016 yang akan di selenggarakan di Jogjakarta.

IMG_4966 Guru satu ini adalah pemimpin redaksi CNN Indonesia Dot Com, Pak Yusuf Arifin. Sosok yang sederhana, kaos merah ber krah plust rambut gondrong khas jurnalis senior (meskipun tidak semua begitu juga sih). Logat jawa yang kental memulai beliau menjelaskan tentang dunia media massa. Beliau memulai menjelaskan tentang Media Massa dalam sejarah dan pengertian.

Menurut pengertian Platform. media massa dibagi menjadi bentuk Media Cetak, Televisi dan Radio. dari masing-masing platform tersebut mempunyai kebutuhan atas produk yang akan dihasilkan. Televisi, adalah media yang banyak menampilkan berita secara visual. Radio, adalah media yang menampilkan berita secara audio. Cetak, adalah media yang menampilkan beritanya dalam bentuk tulisan dan hasil dokumentasi berita sebagai ilustrasi. Sehingga terkadang kita menjumpai beberapa platform media tersebut berjalan tidak semestinya. Contoh : Media Televisi yang terkadang banyak melakukan kesalahan dengan menjadi media cetak dan radio dengan modal stock shoot seadanya. Perihal sepele tersebut terjadi karena ketidakpahaman akan profesi dan bagaimana media itu berdiri dan untuk apa, Kalo namanya televisi itu ya banyakin visualnya, eh ini kok malah banyakan ngomong wartawanya, seloroh pak arifin di akhir penjelasanya.

Wartawan Televisi, Radio dan Cetak mempunyai tugas yang berbeda karena ada batasan platform tersebut. Wartawan Televisi lebih mudah karena mengandalkan visual yang akan tergambarkan real seperti apa yang sedang terjadi detik demi detik. Wartawan Radio masuk level selanjutnya karena dalam kandungan berita tersebut, wartawan harus mampu merepresentasikan ruang imaji dalam bentuk suara serta menggiring para pendengar untuk setidaknya dapat membayangkan apa yang terjadi secara visual audionya. Dan enaknya, jenis wartawan ini menggunakan voice untuk menyampaikan beritanya.

Wartawan media cetak adalah tipe wartawan yang super sengsara, karena dalam proses liputan mereka harus mendokumentasikan dalam bentuk foto yang bisa menggambarkan suasana disitu. Kemudian, setelah kembali mereka harus menuliskan kembali apa yang mereka tangkap di lensa dan juga clue informasi yang mereka catat. Pekerjaan berat mereka lainya adalah memastikan tulisan tersebut menggiring pembaca.

Saya ini ndak tahu tentang media dan dengan penjelasan pak arifin kok jadinya enteng temen toh ya mengenal media secara fundamental. Trus pembahasan menjadi sedikit naik tensi karena ini adalah bagian yang buat beliau mumet, social media.

IMG_4967Social Media itu Bangsat, ada yang tersenyum, tertawa dan terperangah saat pemimpin redaksi CNN Indonesia Dot Com menyatakan hal tersebut. Beliau memang bukan generasi di era social media lahir tapi sekarang ini beliau Pemimpin Redaksi media Onlien, Pancen aneh bapak satu ini. Beliau melanjutkan cerita sedikit tentang DETIK COM, dan sejarah kenapa sih kemudian menjadi semacam patokan bahwa berita paling update itu kalo ngga muncul di DETIK COM dianggap Hoax.

DETIK COM menjadi pelopor tentang gaya menulis online media, sebenarnya berangkat dari perjalanan mereka dalam sisi infrastruktur pada saat melakukan startup dimana harus adaptif. Saat mereka kecil dan ingin tetap exist tentunya berita yang disampaikan juga tidak boleh panjang dan berat-berat. Oleh karena itu DETIK COM Berhasil bertahan dengan skala kecilnya waktu itu dan kemudian semakin adaptif, Namun karena hal tersebut DETIK COM menjadi acuan gaya menulis media online, Cepat – update – pendek dan lempat ke masyarakat, jika ada kesalahan tinggal di revisi atau ditulis ulang sebagai hak jawab, jadi ingat kasus Kantin IPB saya pak.

Internet adalah sumber keriuhan karena begitu banyak penggunanya, sehingga menjadi acuan ramai, riweh atau tidak dari pageview atau kunjungan. Kemudian lahirnya, Social Media. Social media adalah bentuk Revolusi didalam revolusi setelah era internet. Karena arus revolusi yang begitu kuat, sampai berhasil menggeser mindset masyarakat bahwa social media adalah media berbagi informasi bukanlah berita. Namun kecelakaan demi kecelakaan berfikir dan bertindak telah membuat social media menjadi sebuah bentuk yang sangat BUNGLONTIF menurutku, artinya dia bisa menjadi apapun-siapapun dan sekuat apapun.

Generasi muda adalah pengguna aktif social media saat ini, pengguna yang sangat abai akan sebuah berita. Tidak jarang informasi yang disebar kemudian menjadi berita di sebuah media online karena keriuhan dan berisiknya. Revolusi di social media juga turut merevolusi kebutuhan seorang wartawan yang bekerja di social media, WARTAWAN Tersebut harus MULTIPLATFORM alias bisa jadi TV- RADIO – CETAK.

Belajar Nulis – Motret – Videographer – Narator dan kemudian dari hal positif kita akan memiliki sebuah parameter baru profesionalisme wartawan. Tapi ya tetep kok bagi Pak Arifin, Social Media ini BANGSAT. Karena Social media sudah BANGSAT dalam kemunculanya, di sisi yang lain ini menjadi Berakhirnya Era Media Massa tradisional dan menjadi sebuah era baru lahirnya kembali sebuah bentuk MEDIA MASSA yang harus mengakomodir 4 Bentuk MEDIA yaitu PRINT MEDIA – SOCIAL MEDIA – TELEVISION MEDIA – ONLINE NEWS.

Karena kalo slogan rokok itu kan ” Ngga Ada Loe Ngga Rame” dan di zaman internet dan social media ” Ngga Online Ngga Rame”. Biyuh kesel juga nulis rangkuman njenengan berbicara yang kayaknya paling singkat tapi rupane dowo juga. Senang bertemu Njenengan Pak Arifin, Suwun.

happy wheels

Related Posts

6 Responses to Social Media Kok Dibilang Bangsat?

  1. sebenx says:

    lho, onok pak yusuf arifin tibake. Mantep wong iku.

    • admin says:

      Ga mantep maneh benk, mbois. Jian isine social mediaholic ambe buzzer trus dewek e ngomong, social media kuwi bangsat.
      bayangne kondisine, pindah mrono a?hahahaha

  2. anto says:

    meeh media sosial bangsat ancen mas hehe. berita atau informasi hoax gampang nyebar heuhueh…
    lek arepe melu akber iku piye carane mas?

    • admin says:

      Social media kudune informasi, saking kuat e trus dianggep berita. Ga kaget akhir e budaya rasan2 melekat nang social media (Masio ga kabeh). Melu akber gampang, nang kota ndi sampean? golek i twitter/FB ne. Engko ono update yen ono kelas, kari ikuti petunjuk ae registrasi dan datang (gratis). Kalo sudah 2 kali ikut kelas, bisa daftar jadi relawan yen berminat

    • admin says:

      Nah ini diaaa..
      Kalo untuk ikutan Akber caranya gampang :
      1. Pastikan ada di kota mana
      2. Cek Account Akber kota ( kayak aku di pekanbaru ya @akberpekanbaru http://www.akberpekanbaru.wordpress.com ). Ikuti FB atau twitternya nanti ada update tuh dan link registrasinya.
      3. Atau ikuti account @akademiberbagi ( http://www.akademiberbagi.org ) , biasa dishare info seluruh kelas dan cararegistrasinya.
      4. Ikuti saja prosesnya, datang dan nikmati ilmu GRATISnya.
      5. Kalau sudah 2 Kali ikutan kelas, bisa nanya relawan untuk naik tingkat join jadi relawan gimana prosedurnya.
      6. Kalo sudah jadi relawan, nah kita satu GENK nih hahahaha

      Suwun wes mampir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *