MENU

by • March 7, 2018 • OpiniComments (0)376

SOSAK! Karya Membangkitkan Luka Tragedi Kabut Asap

Jauh hari sudah dikabari sama mbak Memez ( Orang Hebat yang bantuin Riau Rhythm pas pentas di SIPA 2017) ngabari kalo akan ada pertunjukan dari Malaydansstudio di Galeri Indonesia Kaya Tanggal 4 Maret 2018. Padahal saya waktu itu ingetnya tanggal 3 Maret 2018 dan sudah catat di kalender bakal hadir kesana. Sedikit banyak mengerti arti kata “SOSAK” tapi penasaran dengan hasil interpretasi Riyo atas karya tersebut.

Saya cuplik dari laman Galeri Indonesia Kaya tentang karya SOSAK

Manusia dan alam sudah semestinya menjadi teman akrab yang saling melengkapi dan memelihara hakekat bahu-membahunya. Jika kemudian kesewenangan manusia telah meninggalkan kesepakatannya, alampun berhak murka. SOSAK adalah sebuah interpretasi fisikal tentang ketidak berdayaan manusia untuk menjaga keharmonisan manusia dan alamnya.

Akibat ulahnya dan konsekuensinya, karya tari yang merujuk eksplorasi ragam gerak tari melayu ini, mencoba sekali lagi mengingatkan bahwa ulah kita sebagai kolaborator utama untuk keseimbangan makhluk ciptaan-Nya menjadi penentu atas kelegaan dari sesaknya nafas dan sesaknya ruang hidup untuk kita semua.

Saya adalah penikmat karya seni apapun bentuknya dan kenikmatan itu memang terasah saat lama tinggal di Pekanbaru dan sampai ganti KTP Pekanbaru. Dibuka dengan baju adat melayu ( Tanpa Tanjak) adalah khas penggiringan image akan melayu riau adalah dengan identitas baju. Saya menjadi tidak kaget dan masuk kedalam setting awal pertunjukan yang dihantar sangat halus masuk joget zapin pun menjadi benang kedua yang menyambungkan alur akan identitas sukacita tarian melayu. Lengkap dengan baju, Kopiah, dendang melayu serta songket sarung membawa sejenak saya menoleh ke kaos yang saya pakai.

Alur lighting dan musik kemudian masuk kedalam nada nondong khas giring di karya Riau Rhythm – Svara Jiva serta transformasi baju melayu yang kemudian”dilepas” seakan menyajikan ada sesuatu di Riau saat itu. Riyo tahu betul “menghargai” Simbol adat melayu dengan melipat rapi dan meletakkanya ditempat yang proper. Huh…hah…huh..haah…adalah bunyi yang kemudian menejadi dominan atas musik yang sedang mengantarkan energi tubuh mereka menyatu dalam permulaan gerak.

Slide dibelakang panggung pun mulai muncul dengan foto-foto artikel koran saat tragedi kabut asap di RIAU terjadi. Oh Tuhan, pada titik itu saya seperti dibawa masuk kedalam sebuah pusaran waktu yang saya coba untuk tentang kehadiranya kembali karena momen tragedi kabut asap itu adalah bagian yang patut diingat tapi tidak untuk dihadirkan apalagi sampai terulang kembali.

Namun, SOSAK Nafas para penari yang terus menggema di Galeri Indonesia Kaya memaksa saya untuk berkompromi bahwa disinilah interpretasi yang mampu mengingatkan saya bahwa Tragedi Kemanusiaan itu pernah hadir di RIAU. Dua Presiden “dipaksa” hadir ke RIAU untuk melihat langsung tragedi yang terjadi tidak sekedar bencana biasa yang bisa ditutup rapat oleh media ibukota. Netizen Riau bisa “memaksa” dua presiden kita tercinta tidak tutup mata atas ditutupnya sekolah, bandara terganggu, dan kepanikan yang melanda kala itu.

Riyo, saya adalah orang yang “kebetulan” ada saat “SOSAK” itu ada di RIAU dan dikampungmu adalah daerah yang dekat dengan sumber asap dan atau mungkin halaman yang tak jauh dari rumahmu. 2018 Karya ini akhirnya berhasil kamu pentaskan dan bagi saya karya ini tidak tentang bahwa kabut asap udah tidak ada kok baru diangkat? Tapi ini adalah tentang merawat dan mengingatkan bahwa Tragedi Kemanusiaan Kabut Asap pernah terjadi di RIAU dan Sepakat untuk TIDAK BOLEH LAGI TERJADI.

Jejak digital banyak menjadi saksi atas inspirasi karyamu ini, Tagar #Melawanasap tidak hanya ramai di Indonesia tapi menjadi sebuah alert dunia internasional yang juga ikut mengawal agar tak ada lagi kabut asap dimanapun karena keserakahan manusia. Jika nanti SOSAK akan engkau tampilkan di panggung internasional jangan pernah malu mengakui bahwa tragedi kemanusiaan itu pernah terjadi di RIAU. Sampaikan kepada mereka bahwa SOSAK adalah karya untukmu mengajak mereka, Dunia mengawasi Hutan kita bersama agar tidak dieksploitasi oleh keserakahan yang akhirnya meluluhlantakkan tatanan yang sudah seharusnya ada di Negeri Kita, Indonesia.

Ada momen emosional ketika pada ending SOSAK kamu muncul dengan deru nafasmu dan nada melayu sambil kamu angkat baju melayumu ditengah mereka penari yang terhempas berkalang tanah seperti pesan yang ingin kamu sampaikan bahwa ” Kembalikan Kegembiraan Kami yang terenggut seperti dulu lagi”, GREAT JOB!

Selamat Riyo, Malaydansstudio dan Team. Terus berproses dan berproses untuk karyamu. Mbak Memez, Nitip nggih!

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *