MENU

by • November 23, 2015 • catatan PerjalanComments (2)301

Sudahkah kita Ngobrol?

Sabtu kemarin menyempatkan bersilaturahmi ke dua tempat nongkrong yang akhir-akhir ini akrab dikunjungi di Pekanbaru; iPoint Art and Coffee dan Sop Duren-Duren. Hari sabtu menjadi semacam hari wajib saya dan istri untuk jalan-jalan berdua refreshing.

Bertukar Pikiran, ngobrol santai dan tidak tertutup kemungkinan juga mendapatkan peluang untuk mengerjakan calon project kecil-kecilan. Salah satu hasil obrolan yang didapatkan adalah waktu yang tepat membuat dan meminum kopi. Sangat personal pendapat dari kawan pengelola iPoint Art and Coffee, Ivan Blank aku memanggilnya. Dia bertutur, ” Cak, Kalo sampean ingin merasakan nikmatnya meminum kopi, ada baiknya mencoba membuat dan meminumnya disaat otak membutuhkan inspirasi di waktu rehatnya”. Sayapun bertanya, “Memang waktu yang tepat minum kopi dan hubunganya sama inspirasi itu kapan wak?”. Jam satu siang dan jam 5 sore adalah dua waktu yang diyakini sebagian para penikmat kopi adalah waktu yang tepat. Mengapa? karena jam satu siang saat orang dari pagi sudah beraktifitas, otak, badan serta jiwa bekerja cukup keras. Kopi dan kafein akan menjadi kombinasi yang menarik untuk kembali menyegarkan ketiganya.

IMG_2030Kemudian, Saya pun bertanya “Bukankan nikmat sekali jika di pagi hari kita menikmati kopi saat masih masa transisi mood bekerja?”. Hal tersebut adalah personal experience, namun bisa kita mencoba menelaah kenapa pagi bukan saat yang tepat menurut ivan blank? jika sedari pagi endapan hari semalam atau yang secara alamiah tubuh akan beraktifitas dengan maksimal telah kita berikan doping? kreasi dan hasil yang ingin diprosesnya melalui alam bawah sadar kita bisa jadi tidak akan muncul karena adanya paksaan dari caffein di pagi hari.

Sayapun memilih menerima pendapat yang disampaikan sang pengelola Kedai Kopi. Bagiku dengan dia berbagi pengalamanya sekedar menikmati kopi dan waktu yang pas, adalah tugasku selanjutnya untuk mencari jawaban-jawaban ataupun pembenaran serta pengalamanku untuk kemudian suatu saat aku akan bagikan kembali cerita itu kepadanya. Dan saat ini saya sedang menikmati kopi seperti apa yang ivan blank sampaikan tentang waktu yang tepat menikmati kopi (hey, i am blogging now with cup of coffee).

Kembali ke hari sabtu malam itu, jalanan Sudirman Pekanbaru berubah menjadi sangat padat aku lihat dari bangku tempatku makan. Ada apakah gerangan? mungkin memang sabtu macet sudah biasa kalo di pekanbaru, rupanya layar facebook yang aku buka menjelaskan hal lain tentang kemacetan di jalan sudirman malam itu. Sekelompok Mahasiswa Makassar dari Rombongan Kongres HMI sedang melakukan demo bakar ban di depan Gelanggang Remaja yang mengakibatkan jalan utama pekanbaru macet total dan crowded. Beberapa kawan yang berkumpul pun membuka facebooknya, mencari di twitter dan beberapa media online pekanbaru tentang detail kemacetan tersebut, didapatkan dua kesimpulan; Rombongan HMI Makassar mengamuk karena belum dapat jatah makan dan penginapan dari panitia Kongress HMI.

Geram sekali melihat perilaku mereka tentunya, dengan permasalahan sepele memilih untuk berbuat onar di negeri orang. Mahfum kita melihat mereka anarkis demo di makassar, namun dibawa di tanah orang tentunya sangatlah tidak Arif wahai kalian yang bergelar MAHASISWA. Istriku pun tenang didalam menikmati kentang goreng dan tayangan Cansu Hazel di televisi, sampai menunjukkan pukul 22:00 WIB kami pun beranjak bergegas balik, karena lalu lintas telah diamankan dan kembali normal.

Hujan pun mengiringi laju kami dari iPoint Art anf Coffee, sampai akhirnya langkah kami selanjutnya tidaklah pulang namun mampir ke Sop Duren-Duren di Jl. Rajawali, Pekanbaru. Tempat ini setiap sabtu menjadi tempat yang akrab berkumpul teman-teman band akustik. Tidak berharap masih pada ngumpul, karena akupun telat datang kesana karena tertahan oleh jalanan macet. Merekapun masih ada disana, Om Markodiet, Bang Yudhis dan om dandhi jamming. Karena memang Sop Duren Duren ini menawarkan hiburan Akustik setiap hari sabtu.

Suasana, Akustik di Sop Duren-Duren Setiap Sabtu  [Pic taken from SDD FB]

Tanpa berlama-lama, bergabung lah dengan gitar akustik menyumbangkan beberapa tembang yang direquest; Setia, Sahabat jadi Cinta, Puisi, Aku Pasti Kembali lainya lupa. Lumayan menghibur satu rombongan pengunjung yang belum beranjak. Obrolan pun berlanjut hingga pukul 12 malam, saatnya kami mengakhiri pertemuan itu dan kembali ke rumah masing-masing.

Selalu ada cerita baru dan semangat yang bisa kita ambil saat kita meniatkan silaturahmi dalam setiap perjalan kita bertemu kawan atau orang baru. Sudahkah kita mengagendakan satu hari dalam satu minggu kita untuk bersilaturahmi? #SilaturahmiUntukIndonesia

happy wheels

Related Posts

2 Responses to Sudahkah kita Ngobrol?

  1. Willy Fwi says:

    Power of silaturahim

    • admin says:

      Alhamdulillah, begitulah om willy. Saya belajar banyak hal juga dari berkunjung dan saling mengunjungi termasuk di Bual-Bual dengan Teh Serainya.
      selalu ada hal yang membawa kita kembali kesana lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *