MENU

by • February 17, 2016 • OpiniComments (0)267

Teknologi Merevolusi Jalur INDIE

Musik, Kreatifitas dan Jalur Indie adalah obrolan yang tidak akan ada habisnya untuk dibahas dan diperbincangkan, apalagi di zaman internet dan teknologi menjadi sebuah tools yang memungkinkan adanya kreatifitas serta konektifitas tanpa batas. Saya masih ingat waktu zaman saya masih sekolah sampai dengan kuliah begitu exciting banget melihat video klip yang dirilis para group band atau soloist, karena pada zaman itu sebagai salah satu syarat kesuksesan sebuah album ( belum ada model single ) adalah kualitas video klip dan siapa sutradaranya, sebut saja Dimas Jay, Jay subiakto, rizal mantovani dll adalah jaminan mutu kalau pengen band tersebut bisa ngehits.

Melongok kebelakang tentang fenomena pada zaman itu saya pun paham bahwa zaman tersebut televisi adalah salah satu media yang menjadi sumber visual sebuah karya, tidak seperti zaman sekarang yang menjadi kebutuhan keberapa untuk kita nyetel televisi. Arus informasi dan Teknologi memang berubah dengan sangat cepat dan mendadak dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

IMG_5056Saya generasi milenium kalo dulu para senior ospek di kampus menyebut, masih menjadi pelaku dan memasuki fase transisi teknologi antara teknologi komputer generasi awal populer dan juga internet. Masih ngrasain deh modem dial-up untuk koneksi internet dikantor (waktu itu saya kerja tahun 2006 lho).

Perjalanan WS-Lotus- Windows 95, 98, XP dan sampai dengan sekarang era windows 10 kalau saya ngga kalah update. Begitu juga dengan jenis karya musik yang dulu rajin kita tungguin acara di televisi, kamera ria, album minggu sampai dengan AMKM ajang permintaan lagu request serta chart lagu yang sampai kebawa emosi mengikutinya.

Kaset adalah barang mahal yang menjadi teman paling rajin jalan-jalan pagi pake walkman, diputer-puter terus2an sampai kusut apalagi anak band yang lagi nyari chord buat latihan tapi ngga punya duit buat beli majalah yang nyajikan chord musik lagu-lagu update. Jaman memang serba susah secara teknologi, tapi kembali lagi sebagai bukti sebuah revolusi kehidupan ada di tangan teknologi yang berkembang seiring melesatnya pemikiran dan pergerakan ala kuantum cahaya pencipta teknologi dan ilmu-ilmu barunya.

Sampai dengan era Telpon warnet dengan warna telpon koin bergeser ke kartu magnet dan muncul era selular dengan gagahnya yang serba mahal untuk perangkat dan pulsa. Perjalanan dunia musik pun ikut mengiringi dengan lambat perkembanganya, masih setia dengan kaset serta masuk era CD dan RBT yang menjadi titik balik munculnya orang-orang kaya baru atau musim panen dan keemasan pemain musik dengan label besarnya. Internet dan perkembangan teknologi duplikasi ( saya kurang setuju dengan istilah membajak CD)yang begitu mudah dilakukan oleh pengguna windows media player saat fitur default windows memberi kemudahan.

Teknologi menghadang duplikasi tidak dapat dibendung oleh para pemilik label yang sudah sangat kelelahan dengan Informasi Teknologi bergeser ke zaman Data Teknologi. Internet menjadi gaya hidup dan Google muncul sebagai Tuhan baru manusia, tempat bertanya dan yang paling ngehe menurut saya adalah Google muncul sebagai Jawaban atas salah satu dasar sifat manusia, Malas.

Malas, menjadikan google semakin berjaya dan menguasai peradaban manusia, kita harus mengakui hal tersebut adalah sebuah gebrakan perubahan abad dan peradaban. Kita tinggal menuliskan atau menyebutkan keinginan kita, maka informasi penunjang ke arah yang kita inginkan pun muncul. Begitu juga kita yang sedang berdrama ria saat Disct Tara tutup diikuti dengan toko CD Musik yang sejenis, tapi saya yakin kok semasa dia masih berjaya jarang sekali kita melirik Disc Tara ataupun menyempatkan rutin membeli CD.

Kenangan akan masalalu nostalgia tersebut yang akhirnya ditangkap oleh mereka yang mungkin selama ini lelah harus menjadi alat para label besar, INDIE muncul awalnya dengan cibiran sebagai tempat mereka yang terbuang atau tak laku di pasar industri musik. Tidak bisa kita pungkiri memang begitulah faktanya, namun namanya sebuah industri, pasti ada threshold yang akan membuat dia harus memilih kemana akan berada di jalur industri, DIVERSIFIKASI / STAGNASI ataukah HARAKIRI.

INDIE menurut saya lahir dengan sebuah langkah yang konsisten dengan cap anak bawang, kemarin sore yang tidak akan pernah menjadi besar.Namun sepertinya Industri MAJOR lupa bahwa selama ini mereka memainkan Kuantitas Besar karena Modal kapital besar. INDIE Memilih bermain dalam stigma kelemahanya oleh MAJOR Label namun perlahan dia membangun komunitas yang menjadi LOYAL Customernya dan sangat adaptif dengan perkembangan teknologi. INDIE tetap mengambil porsi kecil namun kuantitasnya yang menduplikasi sehingga eksistensinya sekarang ini sudah mengambil KUE dari Major Label bahkan sudah masuk membahayakan eksistensi MAJOR LABEL.

Jalur INDIE adalah jalur sunyi yang tidak semua orang akan memilih untuk melaluinya karena sepenuhnya perjalanan mereka adalah langkah mereka dan kesungguhanya bertahan di jalur tersebut. Kebebasan yang dipilih harus dibayar dengan kerja keras dan juga kreatifitas tanpa batas untuk menarik Loyal Customernya menjadi basis masa yang mereka dapat petakan secara komersial. Bagaimanapun, ini adalah sebuah jalur yang dipilih dengan kapital minim, efoort maksimal dan juga kreatifitas idealisme. Social media muncul di era teknologi dengan kebangsatanya menjadi everybody connected everywhere. Menggunakan basis pendekatan “PALING BANYAK DIPERBINCANGKAN” hampir semua platform social media muncul sebagai Public Relation dan marketing yang menakutkan para pelaku konvensional yang identik dengan BIG BUDGET!.

Tulisan ini adalah pembuka untuk series selanjutnya bagaiman Teknologi Informasi dan Transformasi ke Data Teknologi akan menjadi sebuah kekuatan JALUR INDIE dalam berkembang pesat, karena perlu diingat bahwa e-Commerce pun telah berubah menjadi Customer to Customer bukan Store – Customer.

Waktu Istirahatnya udah kelar, Balik Kerja Dulu Bos.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *