MENU

by • November 13, 2015 • catatan PerjalanComments (0)291

Tulisan Tentang Hujan

Seharian ini aku memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat agar bisa segera mengistirahatkan sejenak otak dan ambisi yang sudah mulai tidak berimbang. Pikiran pun berkecamuk setelah bertemu dengan pimpinan perusahaan mendengarkan ceritanya tentang impian masa depan dan tentunya dreams akan ekspansi bisnisnya. Di satu sisi harus bertemu dengan pimpinan yang menjelaskan akan sebuah dreams tentang kehidupan manusia tidak hanya tentang apa yang dikejar dalam sebuah bisnis, tapi kehidupan yang sesungguhnya sedang dijalankan melalui bisnis ini.

Dua isotop dan kutub yang mempunyai sudut pandang berbeda akan sebuah pencapaian dalam bisnis. Saya hanya menjadi orang ditengah-tengah yang sedang terengah-engah kembali memasuki masa berpikir keras akan dibawa kemana dengan usiaku sekarang. Perjalanan ke jakarta kali ini menjadi perjalanan yang penuh pembandingan dua kondisi dimana aku harus melakukan sinkronisasi kehidupan pekanbaru dan Jakarta. Keduanya menawarkan realita dan kebahagiaan, tidak ada yang memberikan pemberat untuk sebuah kata yang dibilang Pilihan.

Hujan kemudian membuatku sedikit mendingin dalam hal endapan semprotan semangat yang membakar optimisme, keraguan dan bahkan ketakutan akan kedepan mau ngapain. Hujan kemudian mengajarkanku bahwa tubuh sekarang butuh menggerakkanku dari tempat tidur, memasak air, dan membuat satu cangkir burik berisi Teh Tubruk. Membakar Rokok ditengah hujan deras di mampang, mengusik laptop yang sedari siang aku biarkan dia terus terisi listrik untuk kucabut dan sekarang kupangku.

Hujan pun kemudian menggerakkan jari-jariku mengetikkan apa yang sekarang ini kalian baca Tulisan tentang hujan. Manusia enjadi sangat jujur dan romantis terhadap hujan, menjadi sangat pemarah terhadap panas. Waktuku tak panjang lagi, selang 7 bulan lagi kontrak kerja itupun habis dan bersiap kembali ke Jakarta meninggalkan pekanbaru dan cerita lima tahunnya kelak. Beberapa kawanku, calon rekan bisnis di Pekanbaru dan Jakarta mungkin sudah muak dengan cerita kepindahanku kembali ke ibukota, namun aku memilih menjawab memang aku belum diizinkan untuk meninggalkan sampai dengan detik terakhir nanti saat serah terima pemenang kontrak baru jasa services dilakukan.

Menikmati hari-hari dekat dengan keluarga istri, kawan-kawan lama dan komunitas positif di pekanbaru akan menjadi cerita panjang dalam tulisan tentang hujan ini. Karena menjadi orang baik dan jujur apa adanya saja tidak cukup ketika kita harus berinteraksi dengan orang yang mempunyai hidden agenda super ambisius. Dunia Customer service mengajarkan banyak hal kepadaku bahwa semua harus ditangani, dihadapi dan diterima.

Sambutlah Hal Positif dan Negatif dengan senyum dan sapa serta jabat erat kedekatan. Dengarkan mereka berbicara dan mengungkapkan apa yang mereka sedang keluhkan, kesalkan atau bahkan yang sedang mereka ingin persalahkan. Cermin menjadi senjata untuk melihat diri kita ketika mendengarkan, senyum dan bahkan tertawa. Terkadang kita suka lupa kalau hidup ini bukan hanya selebar pandangan mata kita, masih ada sisi sampaing dalamĀ  dan belakang yang tidak dapat dijangkau oleh mata yang menghadap kedepan , karena untuk melihat kebelakang atas mata yang melihat kedepan, dibutuhkan badan yang memutar kebelakang dan merubah sudut pandang melihat kedepan menjadi menghadap kebelakang melihat kedepan.

Tulisan tentang hujan ini memang bisa semakin panjang, karena rintiknya bagaikan metronom yang memainkan orkestrasi aransemen hati pikiran dan tangan yang menulis. Selamat berakhir pekan kawan, Selamat bersilaturahmi.

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *