MENU

by • October 16, 2017 • catatan Perjalan, OpiniComments (0)72

Tuna Rungu Bukan Tuna Digital

Mengamati mereka yang hidup tidak seberuntung kita yang “Sempurna” secara fungsi lahiriah akan membuat kita bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada kami. Saya memiliki seorang kakak perempuan yang memiliki keterbatasan pendengaran dan bicara atau biasa disebut Tuna Rungu. Berkomunikasi dengan mereka yang Tuna Rungu dalam proses berkembang menjadi dewasa adalah hal yang tidak mudah. Mempelajari dan memahami keinginan mereka melalui Bahasa isyarat atau huruf yang dieja ( saya pun sudah lupa huruf Bahasa isyarat) terkadang buat kita bingung dan terpancing emosi lho kalo tidak kunjung mengerti apa maksud yang sedang mereka bicarakan.

Menghadapi mereka, Tuna Rungu yang sedang tantrum atau emosi meledak adalah the hardest part yang pernah saya hadapi karena jangankan mengajak berpikir secara Logika, kita harus mampu menerka dengan pasti apa sebab emosi itu meledak. Komunikasi adalah hal yang paling krusial untuk dapat menjadi bagian mereka karena pada dasarnya seorang Tuna Rungu itu tidak ada yang pendiam, mereka itu suka sekali cerita dan ekspresif. Sampai dengan sebelum sekitar 2 atau 3 tahun lalu disaat teknologi HP belum sedemikian penetrative kedalam lingkungan pergaulan mereka, saya masih mengandalkan SMS atau menunggu saat pulang kampong ke mojokerto untuk bisa berinteraksi dengan kakak perempuanku.

Kakak perempuanku menikah dengan suami yang juga tuna rungu dan sudah dikaruniai satu orang putra yang alhamdulillah Normal ( tidak tuna rungu)dan hal tersebut juga menjawab bahwa Tuna Rungu itu bukan penyakit turunan.

Ponakanku namanya Dava, Saat ini duduk di kelas 2 SD yang sangat aktif dan berkomunikasi normal dengan kedua orang tuanya serta teman-temanya. Saya menyebut Dava sebagai anak dengan kemampuan HYBRID dalam hal kemampuan komunikasinya karena harus berkomunikasi dengan kedua orang tua yang tuna rungu dan berkomunikasi normal dengan orang normal, Alhamdulillah kedua model komunikasi tersebut lancar sampai dengan sekarang. Saya senang sekali mengamati saat Genk kakak saya kumpul dirumah beberapa orang  yang dengan antusias sampai larut malam mereka betah ngobrol seperti layaknya kita namun yang berbeda adalah saya biasa menyebut Obrolan dalam Sunyi”, antusias mereka berdiskusi namun yang ada hanya suara sesekali dan Bahasa isyarat yang berbalas peraga.

Untuk teman yang tidak dapat hadir, mereka pun sudah mengenal Video Conference alias Video Call untuk ikut hadir dalam acara temu tersebut. Mereka merencanakan banyak hal dan termasuk dukungan politik ketika diminta untuk partisipasinya di sebuah perhelatan pemilu ( pilkada atau pileg / Piplres). Kok Saya Tahu? Karena mereka suka sekali cerita, jadi ketika kita tanya “ Tadi ngobrol apa?” mereka akan cerita karena bagi mereka tidak ada yang disembunyikan.

Dengan berada di era Digital sekarang ini dan adaptasi yang mereka gunakan, saya pribadi merasa bersyukur bahwa mereka yang dulunya terkendala dengan media Komunikasi sekarang dapat menjadi pengguna fitur video call. Mereka menunjukkan bahwa Tuna Rungu tidak harus menjadikan mereka Tuna Digital.

Sebuah otokritik terhadap diri saya sendiri yang dengan sangat gape banget menggunakan Teknologi dan produk Digital namun sedikit demi sedikit menjadi tergerus akan interaksi dengan sekitar. Menjadikan kita Tuna Sosial sepertinya terlalu ekstrem namun bisa jadi sedang mengarah kesana disaat yang kita selalu tuntut di dunia digital ini adalah kemudahan kita melakukan dari balik gadget atau bahkan dari atas Kasur dan meja kerja. Untuk bekerja pun sekarang tidak sedikit yang memasukkan kriteria kepada recruiter untuk “ bisa kerja dari rumah ga?”.

Siapa sih yang tidak ingin hidup serba mudah dan tinggal “Klik” antar dan sampai, namun jangan lupa juga menjadi manusia itu tidak semudah klik menu layanan di ponselmu.

 

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *