MENU

by • December 31, 2016 • catatan Perjalan, OpiniComments (4)544

Tuna Rungu Tidak Dungu

Tidak Sekedar Video Call, itulah judul caption yang saya tulis di status facebook saya sekitar seminggu lalu saat pulang kampung ke mojokerto, fotonya silahkan dilihat di bawah. Sepintas tidak ada yang istimewa dengan foto ini bukan? Video Call yang tidak biasa karena komunikasi ini dipakai kakak saya dan suaminya yang tuna rungu untuk tetap bisa keep in touch dengan kawan-kawan mereka.

Tidak ada suara disana, yang ada hanya tangan yang bergerak. Nyampai atau ngga pesan mereka berkomunikasi? Karena mereka pakai hati kok sebagai receivernya, pasti nyampe. Baru setahun terakhir mereka mencoba belajar pakai gadget dan teknologi, meningkat setelah sebelumnya sms jadi andalan.

Judul diatas untuk memberi tahu kepada kita yang tidak sedang dalam keterbatasan bahwa teknologi mampu membawa sebuah perubahan besar dalam keterbatasan. Kaum tuna rungu seperti kakak saya dan kawan-kawanya sangat solid kalo urusan silaturahmi dan solidaritas, angkat topi saya. Bahkan mereka pun sudah mampu kok memilih pandangan politik dan tidak jarang dideketin juga sama paslon yang bakal bertarung dalam sebuah perhelatan politik.

Kembali kepada moment yang saya capture diatas, membawa saya berpikir panjang menerawang untuk biaya paket data mereka setiap bulanya. Jangan salah, mereka udah ahli kok nyari tempat nongkrong ngopi yang sediain wifi gratis karena di mojokerto lagi menjamur yang beginian. Masalah paket data, saya dan khayalan kok berharap bahwa someday operator telekomunikasi akan menyediakan paket data murah khusus tuna rungu atau bahkan applikasi khusus yang bisa mengakomodir kebutuhan komunikasi mereka.

Secara bisnis mungkin tidak menjanjikan karena pasti kecil banget prosentasenya tapi kalo diambil dari dana CSR yang menjadi product akan mulia rasanya. MEREKA hanya butuh gambar yang bisa mereka terjemahkan dalam bahasa isyarat, karena suara dan pendengaran adalah keterbatasan yang telah mereka terima sebagai takdirnya.

Someday, harapan sandi bahasa isyarat dapat dikonversi oleh sebuah aplikasi yang akan menghubungkan mereka lebih mudah dengan kita yang normal. Karena bahasa texting mereka butuh kebiasaan berinteraksi baru ngerti maksudnya. NIH contohnya

 

Tuna rungu tidak dungu adalah kenyataan bahwa setiap yang berkebatasan masih mau mengikuti perkembangan zaman dan menyesuaikan dengan teknologi. Dan satu lagi yang masih belum bisa diakomodir adalah mereka belum bisa punya rekening bank karena aturan perbankan yang tidak menemukan cara validasi rekening. Untuk yang ini semoga saya yang kurang update karena beberapa tahun lalu itu jawaban yang saya terima dari petugas bank yang saya datangi untuk rencana buka rekening bank atas nama kakak saya.

Momen seperti diatas yang selalu saya rindu untuk pulang ke mojokerto. Sambil menata semangat kalo perjuangan tidak pernah usai. Selamat Menyambut Tahun Bari 2017 Kisanak.

happy wheels

Related Posts

4 Responses to Tuna Rungu Tidak Dungu

  1. Stevanus says:

    Menarik.
    Sayangnya kita cenderung menganggap mereka disable daripada difable (differently abled people). Kita cuma kasihan tanpa melakukan emansipasi untuk mereka.

    • admin says:

      Mas Stevanus,

      Terima kasih sudah mampir. Sepakat sekali dengan pendapatnya, saya optimis teknologi akan menipiskan jarak yang normal dan difable. Setidaknya mereka terkoneksi tidak terisolasi.

  2. Thio Andhika says:

    org jaman skrg kurang bisa menghargai org lain , entah apa sebabnya 🙁 . bagus mas artikelnya.

    mapir jg ya ketulisan ini Karya sastra makasih

  3. admin says:

    Halo Mas Thio,

    alhamdulillah, menulis realita dari lingkar terdekat kadang ada kepuasan tersendiri mas. btw link yang dikasih broken nih

    Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *