MENU

by • May 17, 2012 • Opini, UncategorizedComments (0)280

Yel-Yel Tanpa Pisuhan?

Selamat malam nawak-nawak , selamat atas kemenangan fantastis pertandingan sore tadi melibas mitra kukar 5 – 3 di kanjuruhan dengan keriuhan dan gegap gempita seribu balon yang dikreasikan oleh nawak-nawak aremania . Pertandingan yang emosional tentunya , karena kita harus melihat dua orang anak hilang yang sempat menjadi kebanggan arema dan aremania ada di kubu lawan , Keceng @arifsuyono dan cimot tomi @bustomi_19. Teror sudah pasti disiapkan dipertandingan yang dijamin menarik dan sangat offensif menyajikan pertandingan kelas wakhid di libur kenaikan isa almasih ini.
Pertandingan berjalan keras dan menarik , bustomi dan keceng seakan bisa bertahan dengan teror nawak-nawak distadion dan jujur bagi saya memang yang harus diwaspadai adalah Bustomi dengan permainanya. Entah apa jadinya mitra kukar kalo bustomi tidak dimainkan dalam laga itu, sudah pasti kita bisa menang lebih mudah dan ga jantungan.

Namun ada yang tersisa dari pertandingan tadi adalah tulisan @bustomi_19 di akun twitternya , bisa dibaca diatas gambar yang ada dipotongan jadi dua itu. Terus terang itu adalah tulisan seorang mantan punggawa arema , ikon arema , aremania temenan sampai harus menulis seperti itu , hal itu adalah seperti sesuatu yang cukup mengulik saya untuk menyalakan laptop dan menulis dari makna tulisan yang hanya tidak lebih dari 140 karakter.
Sudah lama kita dengar , ajakan untuk menghentikan “PISUHAN” di yel-yel dukungan AREMANIA distadion , tapi memang tidak mudah dan butuh waktu..Sam Yuli Sumpil pun saya yakin dan respek beliau sangat mengerti akan hal ini , dan juga tidak sedang berdiam diri melihat semua ini. Seorang Aremania , dan mantan pemain arema yang berujar tidak akan membawa anaknya ke stadion karena masih adanya “pisuhan” ke bapaknya yang sedang berlaga, suporter memang kejam …tapi yang berkata seperti adalah seorang aremania yang menjadi ikon arema dimasa jaya juara kita beberapa tahun lalu.

Bukankah Yel-Yel itu untuk tim kebanggan kita ? dan jika sampai ada ucapan seperti itu apakah boleh saya mengartikan “pemain pun tidak membutuhkan dukungan dengan memberikan pisuhan kepada tim lawan atau pemain tertentu atau apalah wording tidak pantas diucapkan secara massal dan menggemuruh sampai diseantero indonesia mendengar ketika live match?”

Nawak-nawak mungkin punya pendapat berbeda , tapi sungguh saya sangat terinspirasi dengan twit sam cimot @bustomi_19 mengenai cocnern ini , apakah ini bisa kita pakai sebagai awal gerakan ngilangi pisuhan nang stadion? yel-yel arema sik akeh sing nggarai ayas merinding pas nyanyi , kalopun sing ono pisuhane diilangi ketoke luwih akeh yel-yel teror tanpa pisuhan sing bisa menggerogoti nyali lawan …

Nuwus sam @bustomi_19 untuk pangelinge , dan memberikan contoh bagaimana seorang profesional menghadapi laga emosional dengan klub yang berjasa , sam kechenk @arifsuyono nuwus pisan gawe umak , sing wani nantang ridhuan karena ngasari konco plek umak sam cimot. Kudu koyo ngono ancene , pertandingan tidak sekedar emosional tapi pride dan team mate juga harus diperhatikan.

Selamat Arema ku , aremania untuk kemenangan dari mitra kukar yang menjauhkan kita dari jurang degradasi..semoga ini awal dari kesadaran individu aremania untuk diam ketika ada ajakan yel-yel pisuhan distadion …Salam Satu Jiwa.

monggo diklik link kalo pengen tahu seberapa arema dan aremanianya sam cimot @bustomi_19 –> Klik

happy wheels

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *